Jawa Barat - Bisnis.com
Selasa, 18 Desember 2018

PILGUB JABAR 2018: Janji Dedi Selamatkan Nasib Buruh Tani

Wisnu Wage Minggu, 04/03/2018 13:45 WIB
PILGUB JABAR 2018: Janji Dedi Selamatkan Nasib Buruh Tani
Dedi Mulyadi
Istimewa

Bisnis.com,PURWAKARTA--Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali meneruskan perjalanan 'kukurusukan' ke daerah di Jawa Barat. 
 
Calon wakil gubernur bernomor urut 4 tersebut hadir di Kabupaten Sukabumi pada Jum'at (2/3/2018). 
 
Kampung Cipancur RT 26/06, Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi menjadi target pertama kunjungannya. 
 
Di sini, dia mendengarkan keluh kesah Yayah (49), seorang warga yang setiap hari berjibaku di sawah. Dia berprofesi sebagai buruh tani dan merawat sawah milik salah satu tokoh desa setempat. 
 
Kepada Dedi, Yayah menceritakan bahwa sistem upah di daerahnya adalah bagi hasil. Dalam setiap panen, dia mendapatkan 1 : 10, artinya dari setiap 10 kilogram hasil panen, dia mendapatkan 1 kilogram. 
 
"Kalau di sini mah kecil Pak, kita dapat 1 kilogram dari 10 kilogram hasil panen," keluhnya. 
 
Menurut Dedi Mulyadi, kecilnya nilai bagi hasil mencerminkan mahalnya nilai padi dan beras di sebuah daerah. Penyebabnya, lahan pertanian semakin sempit sehingga nilai padi dan beras menjadi meningkat. 
 
Di berbagai tempat, pria yang sudah belajar bertani sejak dari bangku sekolah dasar itu masih menemukan nilai lebih besar. 
 
Di Purwakarta, Subang dan Indramayu misalnya, perbandingan bagi hasil masih 1 : 6. Artinya, setiap 6 kilogram yang diperoleh pemilik lahan, buruh tani mendapatkan 1 kilogram. 
 
"Ini akibat lahan pertanian makin sempit, makanya nilai padi menjadi mahal. Imbasnya, bagi hasil kepada buruh tani makin kecil," kata Dedi dalam rilis resmi, Sabtu (3/3/2018).
 
Karena itu, Dedi Mulyadi yang berhasil menerapkan prinsip Marhaenisme di Purwakarta itu memiliki solusi. Di Purwakarta, dia berhasil mencetak lahan sawah baru. Hasilnya, produksi padi meningkat dan kini Purwakarta mengalami surplus sebanyak 20 ribu ton beras. 
 
Cara tersebut ia nilai dapat dilakukan di tingkat Jawa Barat. Pemerintah provinsi harus mencetak lahan sawah baru untuk menjaga kedaulatan pangan. 
 
Selain itu, pembelian sawah milik tuan tanah oleh pemerintah juga penting dilakukan. Sawah-sawah tersebut diserahkan secara pengelolaan kepada masyarakat setempat. Menurut dia, cara ini dapat menyelematkan hajat hidup buruh tani di daerah. 
 
"Seluruh lahan sawah tersebut menjadi sawah abadi di Jawa Barat. Lahan-lahan itu harus terselamatkan, makanya harus dibeli oleh pemerinta untuk memperbaiki hajat hidup buruh tani," tegasnya. 
 
Potensi sawah abadi menurut Dedi Mulyadi, bukan hanya berfungsi menjaga kedaulatan pangan orang Jawa Barat. Dia membidik potensi lain yakni pariwisata yang dapat dikembangkan di daerah pesawahan. 
 
"Bisa juga jadi wisata edukatif untuk anak-anak. Sehingga anak-anak kita diajarkan bertani sejak dini," pungkasnya.