Jawa Barat - Bisnis.com
Selasa, 18 Desember 2018

PILGUB JABAR 2018

Dedi Mulyadi: Warga Jawa Barat Butuh Satu Dokter Satu Desa

Wisnu Wage Jum'at, 02/03/2018 13:07 WIB
Dedi Mulyadi: Warga Jawa Barat Butuh Satu Dokter Satu Desa
Dedi Mulyadi (kiri)

Bisnis.com,PURWAKARTA--Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali meneruskan perjalanan 'kukurusukan' di Kabupaten Bekasi. Kegiatan sejenis 'blusukan' ini sebenarnya sudah ia laksanakan sejak masih menjabat sebagai anggota DPRD Purwakarta pada Tahun 1999 silam.

Berbagai masalah yang tengah dialami oleh masyarakat berhasil ia temukan. Tanpa harus mencatat, pria yang lekat dengan iket Sunda berwarna putih itu ternyata memiliki gagasan penyelesaian masalah tersebut.

Seperti fenomena yang ia temukan di warga Kampung Buni Asih RT 03/06. Kampung tersebut merupakan wilayah Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

Bocah tersebut mengalami penyakit lupus sejak dua tahun lalu. Berdasarkan penuturan kakaknya, Mpok Ikah (26), Salsa pernah diperiksa ke dokter. Namun, karena ketiadaan biaya berobat dan biaya akomodasi ke rumah sakit, pengobatan tersebut tidak dilanjutkan.

"Sudah dari dua tahun lalu Pak. Setelah ibu meninggal saja, Ayah kan nikah lagi. Nah, mulai ini muncul bercak-bercak merah," jelas Mpok Ikah, Kamis (1/3) kepada Dedi Mulyadi.

Sebelumnya, masalah kesehatan juga ditemukan oleh Bupati Purwakarta dua periode tersebut di desa yang termasuk ke dalam Kecamatan Cikarang Utara.

Masalah kesehatan tersebut diantaranya, penyakit ginjal, penyakit kanker, lumpuh, polio dan lainnya.

Solusi Masalah

Atas permasalahan tersebut, Dedi Mulyadi mengungkapkan solusi. Menurut dia, masyarakat Jawa Barat membutuhkan satu dokter untuk di tempatkan di satu desa.

Tugasnya, selain menangani masalah kesehatan warga, dokter tersebut juga wajib menganalisa penyebab penyakit yang tengah diderita oleh warga.

"Masyarakat Jawa Barat membutuhkan satu dokter satu desa. Jadi, keliling saja untuk mengecek kesehatan warga, mereka yang sakit langsung ditangani. Kemudian, penyebab sakitnya dianalisa agar ke depan tidak terjadi lagi," jelasnya.

Hasil analisa tersebut menurut Dedi Mulyadi, harus dipublikasikan ke masyarakat agar mereka membangun langkah-langkah preventif. Sebab kata dia, mencegah lebih baik daripada mengobati.

"Kalau mengandalkan upaya penyembuhan, ya repot dan mahal. Budaya hidup sehat justru yang harus dibangun, jadi ada langkah preventif," ujarnya.

Skema penggajian dokter pun menurut dia harus diubah. Jika di sebuah wilayah jumlah warga yang sakitnya sedikit, maka dokter tersebut gajinya besar, begitu pun sebaliknya.

"Dokter yang berhasil membuat masyarakat sehat itu prestasi, gajinya naik. Sebaliknya juga begitu," katanya.