Jawa Barat - Bisnis.com
Minggu, 27 Mei 2018

PILGUB JABAR 2018: Visi Misi Ridwan Kamil Untuk Pembangunan Jawa Barat

Ilham Budhiman Jum'at, 09/02/2018 11:42 WIB
PILGUB JABAR 2018: Visi Misi Ridwan Kamil untuk Pembangunan Jawa Barat
Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum
Antara

Bisnis.com, BANDUNG - Bakal calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memaparkan visi misi untuk membangun Jawa Barat dihadapan para kader, relawan, simpatisan Rindu (Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum) dalam rapat akbar yang digelar di Sabuga, Kota Bandung, Kamis (9/2) malam.

Membangun Jawa Barat, kata dia, diperlukan pendekatan yang seimbang antara keadilan dan pertumbuhan ekonomi, pemahaman yang komprehensif antara desa dan kota, serta visi yang kuat tentang bagaimana melahirkan manusia Jabar yang beriman, bahagia, dan berkualitas.

"Perubahan harus secepatnya hadir di provinsi tercinta yang hari ini masih menyisakan banyak masalah," kata wali kota Bandung itu.

Menurutnya, di Jabar tidak boleh lagi ada warga yang jauh dari agama dan Pancasila, tidak boleh lagi ada yang tercerabut jati diri budayanya. Selain itu, tidak boleh ada lagi kegiatan berperadaban yang lemah daya saingnya.

Pria yang kerap disapa Emil itu juga tidak menginginkan adanya daerah yang mengalami ketimpangan. Tidak boleh lagi muncul radikalisme dan terorisme yang membahayakan, serta tidak boleh ada layanan kepada warga yang mengecewakan.

Disampaikanya, penduduk di Jabar juga tidak boleh lagi ada warga yang tidak terbahagiakan, sembako yang harganya tidak terkendalikan, dan para petani serta nelayan yang terpinggirkan.

Dia juga ingin menghapuskan pengangguran, memperhatikan kesejahteraan para buruh dan guru-guru di semua tingkatan dan layanan pendidikan. "Rindu akan mendorong agar ribuan pesantren dan santri-santrinya dapat belajar dengan tenang, tanpa mengalami kesusahan," katanya.

Emil melanjutkan, di Jabar tidak boleh lagi ditemukan desa-desa yang ketinggalan zaman, infrastruktur yang hancur-hancuran, serta hutan yang dirusak dan Sungai Citarum terkotor lingkungannya.

Oleh karena itu, kata Emil, jika warga Jabar berkeinginan untuk maju, maka semua harus menjadi bangsa yang menghargai waktu. "Kita akan ketinggalan, jika kita selalu menyia-nyiakan waktu," ungkapnya.

Emil kemudian mencermati situasi dan kondisi politik hari ini, yang sejatinya bukan sekadar tentang hingar bingar perebutan kekuasaan, bukan pertengkaran antargolongan, dan bukan sekadar caci maki di media ataupun drama-drama penangkapan.

Politik menjadi kotor, dalam pandangannya, para praktisi politik menghalalkan segala cara, seperti halnya doktrin politik Machiavelli di Italia. Politikpun bisa menjadi penghancur peradaban. Emil mencontohkan runtuhnya kejayaan Islam di Andalusia, karena umat Islam saat itu saling bermuslihat untuk berkuasa.

"Jika politik menjadi kekejian, jika nafsu menjajah menjadi niatan. Ini akan seperti Hitler yang menjajah dan menindas Eropa," tegasnya.

Ditegaskan Emil, menjadi pemimpin itu memang berat, sekaligus mulia. Menjadi mulia jika ia menjadi teladan. Menjadi mulia jika ia membawa perubahan. Menjadi mulia jika ia mengakselerasi kemajuan. Menjadi mulia jika ia visioner membawa jalan keluar.

Berbekal pengalaman

Dengan bekal pengalaman selama memimpin Kota Bandung, dia dan Uu Ruzhanul Ulum selaku Bupati Tasikmalaya saat ini ingin membulatkan tekad untuk memberikan yang terbaik untuk Jabar

"Kami berdua adalah dua kepala daerah yang memiliki pengalaman melayani umat dan rakyat," ucapnya.

Pasangan Rindu, kata Emil, adalah pasangan yang sangat klop dan cocok. Seperti mur ketemu bautnya.

"Saya berpengalaman mengurusi kota. Sahabat saya Kang Uu berpengalaman mengurusi desa. Saya sering berinteraksi global. Sahabat saya Kang Uu fasih berinteraksi lokal," jelasnya.

Apps Bisnis.com available on: