Jawa Barat - Bisnis.com
Minggu, 27 Mei 2018

Surplus Neraca Dagang Melebar

Kahfi Jum'at, 02/02/2018 15:35 WIB
Surplus Neraca Dagang Melebar
Ilustrasi
Antara

Bisnis.com, BANDUNG- Surplus perdagangan Jawa Barat pada tahun lalu tercatat sebesar US$17,36 miliar, melebar dari kinerja pada periode tahun sebelumnya yang sebesar US$13,79 miliar seiring dengan terungkitnya ekspor dan stagnasi impor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, total ekspor regional Jabar mencapai US$29,17 miliar, tumbuh 13,42% dibandingkan US$25,72 miliar pada 2016. Seperti biasanya, penopang utama ekspor Jabar berasal dari sektor non migas yang senilai US$28,94 miliar, setara 99,2% dari keseluruhan ekspor.

Sedangkan ekspor minyak mentah dan migas asal Jabar anjlok. Nilai tersebut hanya sebesar US$235,66 juta, menukik sebesar 47,24% dibandingkan US$446,63 juta pada periode 2016.

Sebaliknya, impor cenderung mandek dengan catatan sebesar US$11,81 miliar, lebih rendah dibandingkan US$11,93 miliar pada 2016. Dari sisi sektor, non migas masih dominan berkontribusi terhadap impor senilai US$10,53 miliar, atau sebanding 89,17% dari nilai keseluruhan impor.

Alhasil, pada tahun lalu surplus neraca dagang Jabar kian melebar. Akan tetapi, terdapat kekhawatiran yang menguntit dari struktur ekspor impor pada tahun lalu.

Salah satunya, ekspor Jabar masih disangga produk non migas seperti produk otomotif yang senilai US$4,49 miliar sepanjang 2017. Kinerja itu tumbuh 99,08% dibandingkan US$2,25 miliar pada 2016.

Saat bersamaan justru nilai impor untuk permesinan dan alat produksi mengalami pelemahan yang membuat kinerja keseluruhan impor melemah. Nilai impor mesin dan peralatan produksi mencapai US$2,79 miliar pada 2016, menjadi US$2,47 miliar atau turun 11,4%.

Dinamika itu, menurut Ekonom Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jabar Acuviarta Kartabi, amat paradoksal. Pasalnya, kenaikan ekspor dari sektor industri seharusnya pula diikuti kenaikan importasi untuk mesin dan peralatan produksi.

“Saya khawatir kondisi yang berkebalikan tersebut, tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya,” ungkap Acuviarta kepada Bisnis, Jumat (2/2/2018).

Dia menilai pencatatan impor atau barang masuk ke Jabar sejauh ini tak sepenuhnya tercatat di BPS Jabar. Pasalnya, ungkap Acuviarta, pencatatan masuk barang tersebut terjadi di area pelabuhan utama seperti Tanjung Priok, Jakarta.

“Karena itu, mesti ditelisik lebih jauh apakah terdapat barang setengah jadi atau material bahkan mesin yang masuk tidak tercatat di Jabar, melainkan wilayah lain,” katanya.

Di sisi lain, surplus yang lebih dipicu penurunan impor itupun harus jadi alarm bagi pertumbuhan ekonomi pada periode berjalan. Menurut Acuviarta, harus terdapat pengkajian apakah terdapat hasil maksimal dari upaya lokalisasi yang dilakukan pihak industri, atau pengusaha tengah menahan ekspansi.

“Semoga saja faktor meningkatnya kandungan lokal yang memang jadi faktor terpangkasnya impor tersebut,” ungkapnya.

Apps Bisnis.com available on: