Jawa Barat - Bisnis.com
Selasa, 12 Desember 2017

REVIEW FILM: Murder On The Orient Express, Misteri Pembunuhan Di Atas Kereta

Newswire Senin, 04/12/2017 16:12 WIB
REVIEW FILM: Murder on the Orient Express, Misteri Pembunuhan di Atas Kereta

Bagi mereka yang gemar membaca kisah misteri oleh penulis legendaris Inggris, Agatha Christie, akan mengenal buku Murder on the Orient Express yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1934.

Murder on the Orient Express, sebagaimana tertera dalam judulnya, merupakan sebuah cerita misteri pembunuhan yang terjadi di rangkaian gerbong kereta bernama "Orient Express" yang memiliki rute Istanbul (Turki)-Paris (Prancis) dan sebaliknya.

Karya tersebut sebenarnya telah beberapa kali diadaptasikan ke dalam film layar lebar atau di layar kaca televisi. 

Barangkali versi yang paling sering mendapat pujian adalah versi film tahun 1974 yang disutradarai oleh Sydney Lumet. Film tersebut meraih enam nominasi dalam ajang Academy Award 1975.

Protagonis utama dalam kisah itu adalah sang detektif Belgia Hercule Poirot (yang dalam versi 2017 diperankan oleh sang sutradara sendiri, Kenneth Branagh).

Para penggemar buku Agatha Christie pasti sudah mengenal tokoh Poirot, seorang lelaki kecil dengan kumis "unik" yang selalu tertarik dengan hal-hal yang simetris.

Sifat Poirot yang agak keblinger tersebut juga ditunjukkan sejak awal film. Poirot ditunjukkan terobsesi dengan dua telur yang memiliki tinggi yang sama persis.

Dalam versi film 2017 tersebut memang ada sejumlah penyimpangan dalam cerita orisinalnya dalam buku, seperti Poirot yang terlihat memecahkan kasus misteri pencurian relik berharga di Yerusalem (yang tidak ada dalam versi buku aslinya).

Setelah memecahkan kasus di Kota Suci tersebut, Poirot pergi ke Istanbul. Di sana, dia mendapat berita bahwa dirinya diperlukan untuk memecahkan kasus di Inggris sehingga dia perlu bergegas pergi dari kawasan Timur Tengah untuk kembali ke Eropa Barat.

Secara kebetulan, dia menemui teman lamanya, Inspektur Buoc (Tom Bateman), yang menjadi direktur perusahaan yang mengelola rute "Orient Express".

Dengan bantuan koneksi kawan lamanya tersebut, Poirot mendapatkan kursi di salah satu kamar yang ada di rangkaian gerbong kereta "Orient Express".

Di dalam kereta itu, dia menemui banyak penumpang lainnya, mulai dari dokter Arbuthnot (Leslie Odom Jr.) sampai konglomerat Samuel Ratchett (Johnny Deep).

Terdapat pula Putri Dragomiroff (Judi Dench), pelayan sang putri Hildegarde Schmidt (Olivia Colman), misionaris Pilar Estravados (Penelope Cruz), sekretaris Tuan Rachett, yaitu Hector MacQueen (Josh Gad), pelayan Ratchett yaitu Masterman (Derek Jacobi), dan Biniamino Marquez (Manuel Garcia-Rulfo).

Selanjutnya, perempuan Amerika separuh baya Caroline Hubbard (Michele Pfeiffer), guru Mary Debenham (Daisy Ridley), Countess Helena Andrenyi (Lucy Boynton), Count Rudolph Andrenyi (Sergei Pulonin), profesor Austria Gerhard Hardman (Willem Defoe), hingga sang konduktor, Pierre Michel (Marwan Kenzari).

Dalam perjalanan tersebut, dituturkan bahwa sang pengusaha Samuel Rachett mendapatkan sejumlah surat kaleng yang berisi ancaman terhadap dirinya. Rachett, yang ternyata menjalankan bisnisnya dengan licik dan penuh kecurangan, meminta hingga mendesak Poirot untuk mau menyelidiki surat tersebut.

Poirot menolak tawaran tersebut dengan menyatakan bahwa dia "tidak menyukai muka Ratchett". Adegan perbincangan antara Rachett dan Poirot merupakan salah satu adegan menarik yang menunjukkan akting kedua aktor senior tersebut.

Namun, sesuai dengan plot utama dari buku, ditemukan bahwa Ratchett, yang sebenarnya bernama asli Cassetti. Dia dikenal di media sebagai seorang pembunuh pada masa lalunya, ditemukan tewas ditikam di dalam kamarnya.

Dengan ditambah fenomena bahwa kereta tersebut juga terjebak dalam longsoran es dalam perjalanannya di Semenanjung Balkan, dan permohonan tolong dari Buoc, membuat Hercule Poirot berupaya mencari siapa pembunuh Ratchett/Cassetti.


Branagh Sentris
Tokoh utama dalam film berdurasi 114 menit itu memang adalah Poirot. Akan tetapi, sepertinya versi film tahun 2017 terlalu menitikberatkan pada penampilan Kenneth Branagh sebagai seorang detektif yang cerdas (seperti adegan awal yang menunjukkan kasus pencurian barang berharga di Yerusalem).

Padahal, dalam kisah "Murder on the Orient Express" itu harus diingat bahwa ada belasan karakter lainnya yang menjadi tersangka dari sebuah kasus pembunuhan.

Dalam penyutradaraannya, Branagh agaknya lebih terobsesi terhadap penampilan dirinnya sebagai Poirot sehingga terasa kurang menampilkan latar belakang yang berharga dan mendalam terhadap masing-masing penumpang yang bisa membuat penonton lebih memahami dan berempati kepada mereka.

Selain itu, penampilan Branagh sebagai Poirot yang gemar akan hal-hal simetris atau semata rata juga terkesan berlebihan di sini, seperti ditampilkan dalam adegan ketika kaki kanannya menginjak kotoran binatang. Untuk seimbang, dia juga menginjak kaki kirinya ke kotoran itu.

Branagh juga sepertinya menyamakan sosok Hercule Poirot dengan detektif fiksi legendaris lainnya, Sherlock Holmes, yang gemar melihat barang-barang pribadi orang untuk menebak sisi kepribadian orang tersebut.

Padahal, bagi mereka yang telah lama membaca mengenai Hercule Poirot, mengetahui ketidaksukaan Poirot dengan sosok-sosok, seperti Holmes yang suka mencari petunjuk-petunjuk kecil dan remeh-temeh.

Agatha Christie, dalam menuliskan sosok Hercule Poirot, memang menyuguhkan seorang karakter yang memecahkan kasus misteri dengan menggunakan pendekatan psikologis terhadap mereka yang dijadikan tersangka.

Daripada menelusuri setiap barang bukti yang ditemukan di TKP atau mengejar-ngejar tersangka, Poirot dikenal lebih pada penggunaan "sel-sel kelabunya", seperti seorang filsuf yang duduk di kursi santai, dan tidak tertarik dengan aksi berjibaku yang menampilkan otot.

Namun, sayangnya dalam film tersebut merasa perlu untuk menambahkan sentuhan Hollywood, seperti kejar-kejaran yang dilakukan Poirot kepada sekretaris Ratchett, MacQueen, lebih terlihat sebagai upaya menambah bumbu-bumbu aksi yang tidak perlu (adegan ini juga tidak ditemukan dalam buku aslinya).

Ketika Agatha Christie menulis sebuah karya, dia memastikan bahwa setiap karakter yang ada benar-benar dipaparkan secara lugas mengenai kisah awalnya, hingga mengapa dia bisa menjadi sebagai karakter tersebut.

Dalam film versi tahun 2017, penonton seakan-akan hanya dibawa pada deretan nama-nama aktor dan aktris yang sudah terkenal. Akan tetapi, minim dalam pendalaman dari masing-masing karakter.

Memang, dalam sebuah buku memang ada keunggulan yang tidak dimiliki medium film, seperti buku yang bisa menampung hingga ratusan halaman sehingga relatif lebih banyak yang bisa di kandungnya.

Sementara film, dengan durasi yang biasanya hanya sekitar 1,5 hingga 2 jam, memang memerlukan keahlian khusus untuk bisa menampung semua informasi yang dibutuhkan, dan dalam saat yang bersamaan menyajikannya secara komprehensif kepada penonton dalam jangka waktu yang relatif tidak lama itu.

Sebenarnya, adaptasi yang disajikan pada tahun 1974, dengan menampilkan Albert Finney sebagai Hercule Poirot, dapat dinilai jauh lebih baik dan berbobot.

Film tahun 1974 itu juga menampilkan deretan bintang ternama, seperti Ingrid Bergman, Sean Connery, Vannesa Redgrave, hingga Anthony Perkins.

Namun, film yang disutradai Sydney Lumet itu terlihat lebih apik dalam menyajikan kisah misteri pembunuhan fiksi legendaris ini.

Keunggulan dalam film versi 2017 adalah dalam aspek tata kamera yang lebih bagus, seperti ditampilkan dalam adegan saat Poirot mengetahui bahwa Ratchett telah meninggal (dengan diambil dari kamera di atas kepala), atau dalam pengambilan satu adegan yang berjalan panjang tidak terputus ketika Poirot memasuki stasiun hingga naik ke dalam kereta "Orient Express".

Apps Bisnis.com available on: