Jawa Barat - Bisnis.com
Rabu, 22 November 2017

Lulusan SMK, Seharusnya Siap Kerja Justru Jadi Sumber Pengangguran Terbesar

Kahfi Rabu, 08/11/2017 17:02 WIB
Lulusan SMK, Seharusnya Siap Kerja Justru Jadi Sumber Pengangguran Terbesar
Ilustrasi
Bisnis

Bisnis.com, BANDUNG- Kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan lembaga pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia industri menyebabkan tingkat pengangguran bagi para lulusan membludak, karena itu pemerintah diminta membenahi persoalan secara sistemik.

Hingga Agustus tahun ini, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja mencapai 128,06 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7,04 juta orang berstatus pengangguran, atau 5,5%.

Para siswa jebolan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau pendidikan vokasi menengah paling banyak menyumbang pengangguran. Hingga Agustus, pengangguran berijazah SMK mencapai 11,41% dari total pengangguran terbuka.

Pada saat bersamaan, data regional Jawa Barat, tercatat angkatan kerja mencapai 22,39 juta orang. Dari jumlah itu, terdapat pengangguran terbuka sebesar 1,84 juta orang,  sebanyak 16,8% lulusan SMK.

Ekonom ISEI Jabar Acuviarta Kartabi mengungkapkan laju pengangguran yang disumbang SMK merupakan sinyal bahay bagi perekonomian regional maupun nasional. Pasalnya, para lulusan pendidikan vokasi tingkat menengah itu sebetulnya diharapkan merupakan tenaga siap pakai bagi industri.

“Namun ketika lulusan pendidikan yang diharapkan siap pakai buat industri malah jadi pengangguran terbanyak, maka akan mengganggu roda perekonomian mendatang, karena berimbas kepada industri maupun konsumsi masyarakat,” katanya kepada Bisnis.com, Rabu (8/11/2017).

Selain itu, pengangguran terbesar dari lulusan vokasi mencerminkan dua hal mendasar, yakni lambatnya penciptaan lapangan kerja baru, serta mutu pendidikan yang rendah. “Keduanya persoalan yang mendasar dan mengganggu secara jangka panjang, ekonomi lesu sedangkan pekerja yang siap pakai tidak ada,” ungkapnya.

Penyebab lain yang menjadikan lulusan SMK tak terserap di pasar kerja yaitu kekeliruan membangun pendidikan vokasi. Semisal, lanjut Acu, belum terdapat atau jarang SMK maupun pendidikan vokasi lain yang fokus menggeluti bidang tekstil di Jabar.

“Padahal, kompetensi tekstil itu dibutuhkan di Jabar, karena produk TPT itu yang menopang dan menyerap tenaga kerja paling besar, atau bahkan harus ada SMK di bidang batik yang nilai ekonominya bisa tinggi,” tegas Acu.

Apps Bisnis.com available on: