Jawa Barat - Bisnis.com
Selasa, 12 Desember 2017

Dianggap Bukan Ancaman, Kim Jong-un Ajak Adik Perempuannya Duduki Kekuasaan

Newswire Senin, 09/10/2017 13:32 WIB
Dianggap Bukan Ancaman, Kim Jong-un Ajak Adik Perempuannya Duduki Kekuasaan
Kim Yo-jong (dilingkari merah) diangkat sebagai anggota politbiro dalam Partai Pekerja Korea
Daily Star

Bisnis.com, SEOUL - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mempromosikan adik perempuannya sebagai anggota politbiro yang merupakan lembaga pembuat kebijakan tertinggi di negeri itu. Para analis menyebut langkah ini sebagai upaya Kim menguatkan cengkeraman kekuasaannya dengan membawa orang-orang paling penting dalam hidupnya ke pusat kekuasaan.

Kim Yo-jong diangkat sebagai anggota politbiro dalam Partai Pekerja Korea, yang adalah organ partai paling berkuasa di mana urusan paling penting negara itu ditentukan, lapor media resmi Korea Utara seperti dikutip Reuters.

Yo-jong menjadi perempuan kedua yang bergabung dalam sistem kekuasaan Korea Utara yang patriarkal setelah Kim Kyong-hui ketika abangnya Kim Jong-il yang merupakan ayahanda Jong-un, berkuasa.

"Karena dia perempuan, Kim Jong-un agaknya tidak menganggap dia ancaman terhadap kepemimpinannya," kata Moon Hong-sik, peneliti pada Institut Strategi Keamanan Nasional, Korea Selatan.  "Laksana pepatah, 'darah lebih kental ketimbang air'. Kim jong-un menganggap Kim Yo-jong bisa dipercaya."

Tidak seperti tantenya Kyong-hui yang dipromosikan ke politburo pada 2012 setelah mengabdi selama tiga dekade untuk partai, Kim Yo-jung naik ke kekuasaan secara cepat.

Kim Kyong-hui tak pernah terlihat lagi sejak suaminya, Jang Sonh-thaek, yang pernah dipandang sebagai orang kedua di Pyongyang, dieksekusi mati pada 2013.

Dinas intelijen Korea Selatan meyakini Kyong-hui berada di suatu tempat di dekat Pyongyang untuk menjalani perawatan karena mengidap suatu penyakit yang tidak diketahui.

Jang dan istrinya bukan satu-satunya korban Kim Jong-un, karena kakak tirinya Kim Jong-nam, juga dibunuh lewat gas saraf di Malaysia Februari silam. Korea Selatan dan Amerika Serikat yakin rezim Jong-un berada di balik pembunuhan Jong-nam, demikian Reuters.

Apps Bisnis.com available on: