Jawa Barat - Bisnis.com
Minggu, 17 Desember 2017

Gandeng LIPI, Bio Farma Bakal Produksi Antibisa Ular Hijau

Kahfi Rabu, 30/08/2017 13:02 WIB
Gandeng LIPI, Bio Farma Bakal Produksi Antibisa Ular Hijau
Ilustrasi
Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA- Sejauh ini, keberadaan serum antibisa ular di Indonesia masih terbatas, hal itu menjadikan kasus gigitan ular sebagai ancaman nyawa bagi masyarakat.

Di Indoneisa, terdapat tidak kurang 300 jenis ular. Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 jenis ular tergolong berbisa mematikan.

Sayangnya, hingga saat ini, hanya PT Bio Farma (Persero) yang mengampu produksi antibisa. Produk antibisa ular Bio Farma yang telah beredar khusus untuk tiga jenis, yakni ular kobra, olang, dan ular tanah.

Ketiga ular tersebut banyak menciptakan kasus mematikan di masyarakat. Terutama di daerah pedesaan yang diselubungi hutan dan daerah perladangan.

Keterbatasan antibisa tersebut mendorong kerjasama antara Bio Farma dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kedua pihak meneken kerjasama untuk produksi antibisa ular hijau yang tergolong bisa mematikan, dan populasi masih cukup banyak.

Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Witjaksono mengatakan kerjasama itu meliputi tahap identifikasi, klasifikasi, riset, hingga ujicoba antibisa. “Langkah pembuatan antibisa di Indonesia sangat mendesak, dengan luas wilayah hutan dan banyaknya jenis ular, seharusnya antibisa sudah banyak diproduksi,” katanya di sela acara Forum Riset Lifescience Nasional (FRLN) 2017 di Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Periset Senior Bio Farma sekaligus bertindak sebagai Ketua FRLN 2017 Maharani mengamini kebutuhan riset bagi pengembangan produksi antibisa. Selama ini, katanya, untuk memperbanyak portofolio antibisa, Bio Farma harus melakukan penelitian yang cukup panjang.

“Karena tiap jenis ular mempunyai antibisa yang berbeda-beda, ada yang menyerang saraf dan darah, karena itu kerjasama dengan LIPI dibutuhkan,” katanya.

Di sisi lain, kerjasama tersebut diperkirakan akan berlangsung selama tiga tahun hingga mencapai tahap pra produksi massal. “Setelah dapat, harus diujicoba ke tiap kasus, itu yang cukup lama,” ungkap Maharani.

Apps Bisnis.com available on: