Jawa Barat - Bisnis.com
Senin, 23 Oktober 2017

Benarkah Jumlah Manusia Purba Lebih Banyak Dari Perkiraan?

Ilham Budhiman Rabu, 09/08/2017 07:40 WIB
Benarkah Jumlah Manusia Purba Lebih Banyak dari Perkiraan?
Ilustrasi
Daily Mail

Bisnis.com, BANDUNG -- Baru-baru ini sebuah penelitian mengungkap bahwa 'manusia purba' yang ada di bumi jumlahnya lebih banyak dari perkiraan sebelumnya. Hal itu berdasarkan penelitian baru yang dilakukan tim peneliti asal Amerika.

Ratusan ribu tahun yang lalu, nenek moyang manusia modern menyimpang dari keturunan yang melahirkan Neanderthal dan Denisovans. Hubungan antar kelompok kuno ini tetap tidak jelas.

Neanderthal adalah anggota genus Homo yang telah punah dan berasal dari zaman Pleistosen, sedangkan Hominin Denisova atau manusia Denisova adalah anggota dari spesies manusia atau subspesies dari Homo sapiens, dari era Paleolitik.

Dilansir Daily Mail, sekarang peneliti menggunakan metode baru untuk mempelajari DNA agar misteri tersebut terungkap dan temuan tersebut tampaknya bertentangan dengan teori konvensional tentang evolusi manusia.

Studi yang berasal dari University of Utah tersebut mengklaim bahwa jumlah Neanderthal yang ada di bumi bisa jadi puluhan ribu lebih banyak daripada yang dipikirkan para ilmuwan sebelumnya.

Penemuan ini dilakukan setelah para peneliti menemukan cara baru untuk menganalisis DNA nenek moyang manusia. Banyak peneliti memperkirakan hanya sekira seribu Neanderthal yang ada di bumi waktu itu.

Sebuah tim yang dipimpin oleh Profesor Alan Rogers menciptakan teknik analisis yang menciptakan kembali sejarah awal populasi manusia purba termasuk Neanderthal dan Denisovans.

Mereka menemukan keturunan Neanderthal-Denisovans hampir punah setelah memisahkan diri dari manusia modern. Sekira 744.000 tahun yang lalu, hanya 300 generasi Neanderthal dan Denisovans yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Populasi Neanderthal global kemudian tumbuh menjadi puluhan ribu individu dan tersebar di seluruh Eurasia (Eropa Barat hingga Asia Tengah dan Utara).

"Hipotesis ini bertentangan dengan pengetahuan konvensional, tetapi lebih masuk akal daripada pengentahuan konvensional,” ujar Profesor Alan Rogers.

Sebuah studi pada 2015 menunjukkan perkiraan populasi Neanderthal berjumlah kurang dari 1.000 individu. Menurut Dr Ryan Bohlener, jika melihat data yang menunjukkan bagaimana segala hal terkait, model tersebut tidak memprediksi pola gen yang mereka lihat.

"Kami membutuhkan model yang berbeda, karena merupakan cerita evolusioner yang berbeda juga,” kata Dr Ryan Bohlener rekan penulis studi ini.

Temuan tim juga menunjukkan bahwa Homo heidelbergensis (nenek moyang manusia yang tinggal di Afrika, Eropa, dan Asia barat) yang hidup antara 600.000-200.000 tahun lalau adalah Neanderthal awal.

Spesies mirip manusia punah jauh sebelum manusia modern berimigrasi ke Eurasia dari Afrika, namun pohon evolusioner telah banyak membingungkan ilmuwan karena catatan fosil yang langka.

Tim ini mengembangkan metode statistik yang lebih baik, yang disebut legofit. Para ilmuwan menggunakan mutasi DNA untuk mengumpulkan sejarah evolusioner ratusan ribu tahun yang lalu.

Apps Bisnis.com available on: