Jawa Barat - Bisnis.com
Senin, 21 Agustus 2017

Lewat Jagung, Kementan Klaim Hemat Devisa Rp12 Triliun

Hedi Ardia Selasa, 08/08/2017 15:58 WIB
Lewat Jagung, Kementan Klaim Hemat Devisa Rp12 Triliun
Ilustrasi
Bisnis

Bisnis.com, BANDUNG - Kementerian Pertanian mengklaim telah berhasil menghemat devisa Rp12 triliun sebagai dampak kebijakan pengurangan dan penghentian impor jagung pada tahun ini. Melonjaknya harga jagung saat ini dianggap telah menguntungkan petani, meski pada saat bersamaan kalangan pelaku usaha perunggasan mengeluhkannya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, berdasarkan pengalaman beberapa tahun sebelumnya hingga Agustus, biasanya pemerintah telah mengimpor jagung sebanyak 2,5 juta ton. Tapi, pada tahun ini sama sekali tidak dilakukan agar petani dalam negeri bergairah dalam menanamnya.

"Kita ini sedang menjaga keseimbangan untuk jagung. Petani memang untung (akibat melonjaknya harga) yang penting kita memberi batas atas untuk memberikan kesempatan kepada konsumen," katanya, kepada wartawan di Bandung, Selasa (8/8/2017).

Menurutnya, apa yang dilakukan kementeriannya sejak 2016 silam yang memutuskan mengurangi impor jagung dari 3,5 juta ton pada 2015 menjadi 1,3 juta ton pada 2016 dan nihil pada tahun ini merupakan upaya menjaga pertanian berkelanjutan agar petani jagung mempertahankan usahanya.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemdag) menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Jagung lokal sebesar Rp3.150 per kilogram (kg) dengan kadar air 15%. Sedangkan harga di tingkat pabrikan dipatok Rp4.500.

"Dengan APBN kita tidak bisa memberikannya, kita harus cerdas mengeluarkan regulasi. Sekarang tidak impor, jadi beri kesempatan mereka untung," ujarnya.

Meroketnya harga jagung saat ini terus dipantau dan telah diukur kelayakannya. Mengenai kekhawatiran minimnya persediaan di dalam negeri, diakuinya, hal itu tidak akan terjadi karena persediaan mencukupi di Perum Bulog. Sehingga apabila terjadi peningkatan harga di luar batas, maka akan langsung diintervensi.
 
"Tidak ada impor, setelah puluhan tahun impor. Bagus kan untuk negeri ini. Ini yang harus disadari tolong beri pemahaman bagimana petani sejahtera agar pedagang untung dan konsumen tersenyum," ucapnya.

Apps Bisnis.com available on: