Jawa Barat - Bisnis.com
Sabtu, 19 Agustus 2017

Peneliti: Pengangguran Berisiko Lebih Tinggi Mengalami Stroke

Ilham Budhiman Rabu, 19/04/2017 08:40 WIB
Peneliti: Pengangguran Berisiko Lebih Tinggi Mengalami Stroke
Ilustrasi
Daily Mail

Bisnis.com, BANDUNG -- Peneliti Jepang mengungkapkan orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan atau menganggur berpotensi risiko lebih tinggi mengalami serangan stroke.

Dilansir Daily Mail, hal itu berkaitan dengan gaya hidup yang dapat mengalami penyumbatan darah andaikan tidak banyak bergerak atau stres karena tidak memiliki pendapatan. Menurut peneliti faktor tersebut sangan kental dengan mereka yang menganggur.

Para ahli di Osaka University menganalisis hampir 42.000 orang dewasa berusia antara 40-59 tahun. Mereka dipantau selama kurun waktu 15 tahun yang dipublikasikan di jurnal Stroke.

Hasilnya, pria yang menganggur ditemukan memiliki risiko 60 persen lebih tinggi terkena stroke, sementara wanita memiliki risiko sedikit lebih rendah.

Namun, wanita memiliki kemungkinan besar meninggal akibat serangan stroke hingga 150 persen, itu bila dibandingan dengan yang bekerja.

"Implikasi utamanya adalah keamanan kerja di usia paling produktif dapat menurunkan risiko stroke," kata Profesor Hiroyasu Iso.

Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa di Jepang, pekerja merupakan bagian dari sistem pekerja seumur hidup. Jadi, hasil penelitian ini mungkin tidak bisa disamakan di negara-negara lain karena perbedaan budaya.

Sementara Dr Mike Knapton, dari the British Heart Foundation mengatakan studi Jepang ini menunjukkan ada hubungan antara ketidakamanan kerja dan peningkatan risiko mengalami stroke.

"Kita tahu bahwa status pekerjaan berhubungan dengan serangan jantung dan stroke, namun Jepang memiliki sistem kerja yang sangat berbeda dari yang lain, sehingga temuan ini tidak dapat diterapkan di negara lain," ungkapnya.

Apps Bisnis.com available on: