Jawa Barat - Bisnis.com
Jum'at, 20 Juli 2018

Arab Saudi Butuh Investasi Rp714 Triliun Untuk Penyediaan Air

Newswire Senin, 28/11/2016 10:15 WIB
Arab Saudi Butuh Investasi Rp714 Triliun Untuk Penyediaan Air
Ilustrasi
Globalsolution.org

Bisnis.com, RIYADH - Arab Saudi bisa membutuhkan investasi sampai US$53 miliar lebih (sekitar Rp714 triliun) di sektor penyediaan air yang didukung pendanaan swasta seiring dengan meningkatnya permintaan menurut para pejabat.

Pengekspor minyak terbesar di dunia yang pendapatan minyak buminya tahun lalu turun 51% akibat anjloknya harga minyak mentah itu sedang mendorong peragaman dalam perekonomiannya melalui investasi sektor swasta yang lebih besar dan pengembangan industri-industri baru.

Di antara badan-badan pemerintah yang ditargetkan untuk privatisasi adalah Saline Water Conversion Corporation (SWCC), yang menghasilkan air dengan menghilangkan garam pada air dari pantai-pantai Teluk Arab dan Laut Merah.

"Instalasi-instalasi pada masa depan akan ditenderkan ke sektor swasta," kata Ali al-Hazmi, gubernur SWCC, dalam Forum Investasi Air yang digelar pemerintah pada Minggu (27/11).

"Kami sudah menyiapkan semuanya untuk privatisasi."

Kerajaan gurun yang tidak memiliki sungai itu memperoleh sebagian besar airnya lewat proses desalinasi dan sisanya dari sumber-sumber darat.

"Ini membutuhkan banyak uang dan banyak investasi modal," kata Mansour al-Mushaiti, deputi menteri dari Kementerian Lingkungan Hidup, Perairan dan Pertanian, kepada forum itu.

"Kami memperkirakan modal kebutuhan modal dalam lima tahun ke depan akan mencapai 200 miliar riyal Saudi (US$53,3 miliar)."

SWCC, yang dibentuk tahun 1974, adalah produsen terbesar air desalinasi di dunia. Badan itu mengoperasikan 28 fasilitas pengolahan dan sebagai bagian dari proses itu juga menghasilkan listrik untuk pembangkit listrik nasional.

Permintaan air di Arab Saudi setiap tahun meningkat lima persen lebih, kata Hazmi pada awal dari forum dua hari tersebut.

Pada 2020, kerajaan itu menargetkan 52% produksi air desalinasi lewat "kemitraan strategis" menurut warta kantor berita AFP.