Jawa Barat - Bisnis.com
Minggu, 19 November 2017

FORUM RISET LIFE SCIENCE NASIONAL

Sinergi Dipupuk, Riset Dikembangkan

Yanto Rachmat Iskandar Sabtu, 27/08/2016 09:08 WIB
Sinergi Dipupuk, Riset Dikembangkan

Sungguh perjalanan yang menggembirakan. Konsorsium dan working group di Forum Riset Life Science Nasional mampu menunjukkan kinerja yang baik dengan menelurkan tiga produk atau kandidat produk baik vaksin maupun life science.

Pada 2014, konsorsium melansir kandidat vaksin hepatisis B generasi kedua.  Erythropoietin atau EPO dilansir pada 2015, yang merupakan biosimilar atau life science. Pada 2016 ini, muncul kandidat pengganti vaksin tuberculosis atau BCG.

Lahirnya tiga produk atau kandidat produk itu menunjukkan semangat kerja dan kebersamaan konsorsium dan working group dalam forum yang dulu bernama Forum Riset Vaksin Nasional.

Perjalanan forum yang masuk tahun ke-enam ini dinilai sudah berada pada tahapan yang benar karena sudah mampu menghasilkan kerja nyata. Beberapa di antaranya bahkan mengalami percepatan.

Direktur Utama Bio Farma Iskandar optimistis target kerja bersama ini akan membuahkan hasil sesuai harapan.

Menurutnya, Bio Farma memiliki ragam pengalaman kerja dengan negara atau lembaga lain di dunia yang prosesnya mirip dengan proses kerja yang ada di konsorsium ini.

“Dari industri ingin memberikan garansi. Ini jalan yang benar. Ini jalan yang kita tempuh. Jadi kami ingin meyakinkan teman-teman. Kelihatannya untuk di Tanah Air tidak ada pilihan. Kita harus terus melanjutkan perjuangan ini,” katanya.

Dia mengatakan kerja sama ini juga sekaligus merupakan bukti konsorsium  mendukung program pemerintah di sektor kesehatan sekaligus menindaklanjuti Inpres No. 6/2016 tentang Percepatan Industri Farmasi dan Alkes, termasuk di dalamnya penguasaan teknologi dan inovasi bidang farmasi.

“Cita-citanya adalah kemandirian dan daya saing. Tidak mungkin kita berdaya saing kalau bahan baku beli dari luar. Kita hanya bisa mandiri ketika kita bisa menghasilkannya sendiri.”

Francisca Srioetami Tanoe Rahardjo, wakil dari konsorsium New TB, mengemukakan produk New TB yang sedang digarap ini adalah bisa menggantikan peran vaksin BCG. Menurutnya, kandidat produk ini masih dalam proses pengujian dan formulasi lebih lanjut.

“Indonesia sekarang berada di posisi kedua setelah India untuk angka penderita TB. Jadi harus ada terobosan,” ucapnya.

Dia mengatakan selain vaksin TB, produk life science untuk TB juga sangat mungkin untuk digarap dalam forum ini.

Nurma Hidayati, Direktur Penilaian Obat dan Produk Biologi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan pihaknya akan terus melakukan pengawalan antara lain dengan cara mendorong dan memfasilitasi pengembangan biosimilar dengan cara advokasi dan konsultasi terkait pengembangan produk.

Selain itu, membantu pemenuhan terhadap cara pembuatan obat yang benar (CPOB), menyediakan informasi regulasi dan pedoman dengan melibatkan peneliti dan industri.

Konsorsium & working group ini melibatkan Kemenkes, Kemenristek & Dikti, BPOM, Ditjen HKI, Bio Farma, perguruan tinggi, LIPI, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan stakeholder lainnya.

Konsorsium riset terdiri dari lima kelompok yaitu New TB, hepatitis B, dengue, HPV, dan HIV. Sedangkan tujuh working group terdiri dari erythropoietin (EPO), rotavirus, malaria, influenza, stem cell, delivery systems & adjuvant dan pneumococcus.

 

#ERA LIFE SCIENCE#

Indonesia berpeluang besar mengembangkan produk life science secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri bahkan dipasarkan ke mancanegara mengingat besarnya potensi yang dimiliki oleh negara ini.

Direktur Pemasaran Bio Farma Mahendra Suhardono mengemukakan saat ini produk life science yang beredar di Indonesia merupakan produk impor yang mahal.

“Seperti EPO, monoclonal antibody, dan antikanker. Kalau kita sudah jatuh sakit, apapun akan dilakukan termasuk membeli obat mahal,” katanya.

Menurutnya, produk buatan Indonesia nantinya diharapkan bisa didapatkan masyarakat dengan harga terjangkau.

Mahendra mengatakan peluang menuju kemandirian itu juga terbuka lebar seiring dengan habisnya masa paten seperti biosimilar. “Itu merupakan kesempatan bagus bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk mengembangkan lebih lanjut produk life science untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Kalangan di Indonesia sebetulnya sudah menggarap sektor life science ini. Akan tetapi, pengembangannya bersifat sporadis dan belum optimal.

Oleh karena itu, Bio Farma menggandeng pemerintah dan institusi lainnya menggarap sektor life science ini dengan bersinergi. Di samping tetap menggarap pengembangan produk vaksin secara  mandiri pula.

“Kami mencoba merangkul melalui forum riset nasional. Mari kita bergabung dan bergerak bersama. Anggaran yang sedikit-sedikit itu kalo digabung lumayan. Bisa bersinergi. Jangan sampai satu institusi mengerjakan hal yang sama.”

Menurut Mahendra, selain anggaran yang kecil. Ketentuan soal paten juga mengganjal pengembangan lebih lanjut. “Bagaimana mau masuk ke situ semuanya kalau sudah dipaten. Kita harus bersama-sama menanganinya melalui forum ini,” katanya.

Dia mengatakan Indonesia memiliki modal yang sangat besar dari sisi pasokan bahan baku dasar karena didukung oleh keanekaragaman hayati yang luar biasa. Perguruan tinggi di Indonesia itu justru ada yang kuat pada natural resources-nya.

Forum Riset Life Science Nasional merupakan tindak lanjut dari Forum Riset Vaksin Nasional yang digelar pada Agustus 2015 di Jakarta dengan tema “Hilirisasi Hasil Riset Nasional Bidang Life Science Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Bangsa”.

FRLN tahun ini mengambil tema “Tantangan Menuju Kemandirian Riset Nasional Bidang Life Science”.

Head of Corporate Communications Bio Farma N. Nurlaela Arief mengatakan perubahan nama dari FRVN menjadi FRLN ini bertujuan memperluas cakupan pengembangan produk life science berstandar internasional untuk meningkatkan kualitas hidup.

Produk life science yang dimaksud adalah produk yang dihasilkan dari organisme hidup melalui proses bioteknologi.

Dia mengatakan simposium yang kembali digelar pada tahun ini juga untuk membangun sinergi  riset bidang life science antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, serta komunitas pendukungnya sebagai upaya untuk mempercepat hilirisasi produk life science sehingga dapat segera menghasilkan produk  nasional.

“Hal ini merupakan dukungan terhadap misi pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dan tujuan ketiga dari 17 global goals yaitu menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat di segala umur,” ucapnya.(Yanto Rachmat Iskandar/k10)

Apps Bisnis.com available on: