Jawa Barat - Bisnis.com
Senin, 19 Februari 2018

Kemenristek Dikti Dorong Pendidikan Tinggi Buat Riset Di 3 Bidang Prioritas

Agne Yasa Kamis, 28/07/2016 19:55 WIB
Kemenristek Dikti Dorong Pendidikan Tinggi Buat Riset Di 3 Bidang Prioritas
kiri ke kanan: Direktur Riset dan Pengabdian kepada masyarakat Kemenristek Dikti Prof. Ocky Karna Radjasa, Direktur Politeknik Negeri Bandung Rachmad Imbang Tritjahjono dan Peneliti sekaligus Ass. Profesor Bidang Molecular Biology STIH ITB Fenny Martha Dwivany dalam IRWNS ke-7, di Kampus Polban pada Kamis 928/7/2016)
Bisnis/Rachman

Bisnis.com, BANDUNG - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) mendorong pendidikan tinggi baik itu universitas maupun politeknik menghasilkan riset di bidang prioritas atau isu strategis yaitu ketahanan pangan, energi, dan kemaritiman. 

Direktur Riset dan Pengabdian kepada masyarakat Kemenristek Dikti Prof. Ocky Karna Radjasa menyorot masih rendahnya jumlah paten Indonesia, di United States Patent and Trademark Office (USPTO)  Indonesia masih di bawah Thailand, Malaysia, dan Singapura.

"Diperlukan pengembangan kapasitas dan tidak mungkin sendiri. Mau tidak mau, perguruan tinggi dan politeknik harus memperkuat visi dan misi riset termasuk pendanaan riset," ujar Prof. Ocky Karna Radjasa dalam Industrial Research Workshop and National Seminar (IRWNS) ke-7 di Politeknik Negeri Bandung pada Kamis (28/7/2016).

Ocky menambahkan beberapa keunggulan riset nasional ada di bisang kesehatan, penyakit tropis, gizi dan obat-obatan, Teknologi Informasi, MIPA, dan Ilmu Teknik. Adapun bidang prioritas dan isu strategis untuk riset ke depannya adalah di bidang energi terbarukan, kemaritiman, dan ketahanan pangan.

"Peta keunggulan riset ini diperlukan untuk pengembangan penelitian di masyarakat. Kemenristek Dikti juga mendorong agar perguruan tinggi baik itu universitas maupun politeknik aktif melakukan penelitan terutama untuk riset" ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti yang merupakan Ass. Profesor Bidang Molecular Biology, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (STIH ITB) Fenny Martha Dwivany juga memaparkan penelitiannya tentang pisang yaitu Banana Project Idea, dengan fokus menghasilkan teknologi pasca panen yang disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia atau berbau lokal.

"Hasilnya ditemukan teknologi pasca panen untuk menghambat hormon etilen untuk pematangan buah dengan cara melapisi atau coating dengan material kulit udang dan menyimpannya di tempat berbahan dasar bambu dengan desain khusus. Ini efektif menjaga kualitas pisang sampai di tempat tujuan," ujarnya.

Harapannya teknologi ini dapat dimanfaatkan para petani pisang di Indonesia hingga akhirnya posisi Indonesia di nomor keenam dan nomor 60 eksportir dapat meningkat.

"Indonesia merupakan kaya dengan jenis dan sebagai tempat penyebaran pisang, ada 1000 jenis pisang. Jadi sebenarnya kekayaan sumber daya alam merupakan kekuatan riset di Indonesia, karena peneliti luar pun nantinya menjadikan ini sebagari rujukan," ujarnya.

Fenny mengungkapkan biaya untuk melakukan riset ini juga tidak sedikit. Namun, menurutnya itu menjadi tantangan tersendiri untuk terus bergerilya mencari dana riset.

"Basic science itu penting untuk mencipakan teknologi. Mimpi selanjutnya adalah membawa pisang Indonesia ke luar angkasa, semoga dapat terwujud," (k5)

Apps Bisnis.com available on: