Jawa Barat - Bisnis.com
Rabu, 18 Juli 2018

ATF 2016: Ajang Pencarian Solusi Permasalahan Pariwisata

Agne Yasa Sabtu, 07/05/2016 16:16 WIB
ATF 2016: Ajang Pencarian Solusi Permasalahan Pariwisata
ATF 2016
Bisnis/Agne

Bisnis.com, BANDUNG - Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung menjadi tuan rumah Asia Tourism Forum (ATF) 2016, yang pembukannya digelar di Gedung Sate, Bandung pada Sabtu (7/5/2016).

ATF diselenggarakan setiap dua tahun sekali (Biennial), pada ATF 2016 ini merupakan Konferensi Industri Hospitality dan Pariwisata di Asia yang ke-12 kalinya dan akan digelar selama tiga hari yaitu pada 7-9 Mei 2016. Adapun STP Bandung menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya.

ATF 2016 mengambil tema A New Approach To Wonderful Tourism, Sustainable, Responsible & Quality Tourism - Innovation, Research, Education.

ATF 2016 menghadrikan para pembicara terkemuka di bidang pariwisata yaitu Prof. Kaye Chon (Hong Kong Polytechnic University) sebagai Founder ATF, Menteri Pariwisata Arief Yahya dan beberapa pembicara lainnya dengan reputasi internasional di bidang pariwisata.

Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung Anang Sutono mengatakan di ATF 2016 terdapat 130 hasil riset yang terseleksi dari 300 proposal, yang nantinya akan dibahas dalam forum dan diharapkan bisa memberikan solusi permasalahan pariwisata.

"Pariwisata permalahannya banyak dan terus bertambah. tapi dengan riset itu, Insya Allah akan memebrikan solusi," ujarnya.

Anang menambahkan para peserta ATF 2016 berasal dari 21 negara dengan jumlah peserta ratusan orang.

"Mereka akan bersama-sama dengan kita membahas hasil riset yang berasal dari berbagai macam negara," ujarnya.

Anang mengatakan isu strategis dalam bidang pariwisata saat ini yaitu pariwisata harus memakmurkan rakyat Indonesia dan masyarakat sekitar, dimana local communities harus mendapat manfaat setimpal dari aktivitas pariwisata.

"Riset kita berbicara sustainable, keberlangsungan, di situ kita bersama-sama masyarakat lokal membangun pariwisata, supaya hasil riset ini tidak di awang-awang. harus betul bisa-bisa digunakan sebagai problem solver," ujar Anang.

Anang menambahkan konsep sustainable tourism dan responsible tourism, berarti dimana semua pihak dari pemerintah, akadmeisi, komunitas termasuk asosiasi profesi, media, dan busines people harus membangun kelokalan sehingga pembangunan komunitas tidak hanya untuk hari ini saja.

"Harus berbicara bagaimana 20 tahun yang akan datang, 50 tahun yang akan datang itu namanya sustainable, tidak berbicara generasi hari ini, tapi generasi anak cucu," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Kaye Chon dari Hong Kong Polytechnic University dan sebagai Founder ATF, mengatakan sudah banyak negara yang menggunakan riset sebagai dasar membuat kebijakan di bidang pariwisata, seperti di Hong Kong dan Korea Selatan.

"Riset pariwisata membuat kontribusi dalam pembuatan kebijakan. Di Indonesia, yang paling penting adalah mengembangkan sdm pariwisata karena untuk mengembangkan pariwisata membutuhkan sdm yang memiliki kompetensi," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Republik Indonesia Arief Yahya, mengatakan di gelaran ATF 2016 ini menghadirkan perwakilan dari para akademisi, pemerintah atau government, dan community.

"Paling banyak akademisi, karena ini forum ilmiah, 13o riset yang disubmit akan dipelajari dan harus menghasilkan sesuatu," ujarnya.

Arief menambahkan ATF 2016 juga dapat menjadi benchmark bagi para akademisi dalam hal ini dosen dam mahasiswa untuk belajar dan sebagai persiapan dari sisi sdm.

"Impact-nya akan besar di sini karena pesertanya kebanyakan dari Indonesia ada sekitar 300, maka Indonesia bisa banyak belajar, targetnya 500 ribu sdm di bidang pariwisata sudah memiliki sertifikasi untuk 2019," ujarnya. (k5)