Jawa Barat - Bisnis.com
Minggu, 19 November 2017

STRATEGI BISNIS POS INDONESIA

Mempertajam Arah Transformasi Di Era Digital

Annisa Margrit Rabu, 13/04/2016 11:16 WIB
Mempertajam Arah Transformasi di Era Digital

Hari ini kugembira, melangkah di udara

Pak Pos membawa berita dari yang kudamba

Sepucuk surat yang manis, warnanya pun merah hati

Bagai bingkisan pertama, tak sabar kubuka

Penggalan lirik lagu Surat Cinta yang dinyanyikan Vina Panduwinata itu tampaknya hanya diingat oleh generasi yang lahir di era 1980 ke atas. Masa-masa ketika kunjungan dari tukang pos nyaris terjadi tiap hari di tiap rumah.

Tidak hanya mengantarkan surat cinta dari kekasih, tapi juga surat dari keluarga, teman, rekan sejawat, atau surat pemberitahuan dari majalah mengenai dimuatnya cerita pendek yang dikirimkan. Sekarang, semuanya sudah digantikan oleh SMS, email, Whatsapp, Line, dan aplikasi pengirim pesan lainnya.

Ditinggalkannya dunia surat menyurat pun disadari benar oleh PT Pos Indonesia (Persero). Perusahaan pelat merah ini tidak bisa lagi mengandalkan segmen surat jika ingin mempertahankan eksistensi dan mendongkrak kinerja, apalagi masyarakat Indonesia tidak punya tradisi surat menyurat yang mengakar seperti di Jepang. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pun sudah berjalan sehingga kompetisi diyakini bakal makin ketat.

Tahun lalu, perseroan membukukan pendapatan Rp4,6 triliun atau tidak jauh dari perolehan 2014 yang sebesar Rp4,4 triliun. Tetapi, tidak tanggung-tanggung target 2016 ditetapkan senilai Rp10 triliun. Meski hanya disebut sebagai target psikologis, tapi Pos Indonesia optimistis pertumbuhan dua kali lipat bisa diraih.

Untuk itu, perusahaan pun berupaya bertransformasi diri dengan lebih fokus di logistik dan distribusi termasuk dengan menjadi backhand e-commerce bagi pasar bisnis online. 

Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsi Wahju Setijono mengatakan kebutuhan terhadap paket tidak akan pernah hilang. Dengan perkembangan e-commerce, potensi yang bisa digarap sangat besar terutama di daerah perdesaan atau pinggiran kota besar. “Pertumbuhan ekonomi pada rural area membuat demand dari daerah-daerah tersebut terhadap barang-barang dari kota semakin tinggi,” ujarnya.

Gilarsi menyebutkan dari total PDB Indonesia pada 2014 yang senilai Rp10.500 triliun, sebanyak 25% di antaranya disumbangkan oleh daerah-daerah di pelosok Nusantara. Potensi Rp2.500 triliun inilah yang diharapkan dapat diserap oleh perseroan, ketimbang berkompetisi menggarap kue di area perkotaan.

Namun, hingga kini Pos Indonesia baru mampu menyerap sekitar Rp5 triliun di antaranya. Menurutnya, hal ini menunjukkan hambatan yang dihadapi perusahaan sebenarnya adalah kecepatan dan ketangkasan dalam memanfaatkan peluang.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika perseroan terus menggenjot performa bisnis PT Pos Logistik. Seperti namanya, anak usaha Pos Indonesia ini bertanggung jawab menggarap bisnis logistik, dan ditargetkan dapat masuk ke lantai bursa pada 2019 ketika nilai asetnya mencapai Rp10 triliun. Saat ini, aset perusahaan masih di bawah Rp1 triliun.

FOKUS BISNIS

Anak usaha properti pun diarahkan agar fokus ke pengembangan gudang dan processing centre, sebagai bagian dari pertumbuhan bisnis e-commerce. Padahal, sebelumnya Pos Indonesia menyampaikan akan masuk ke bisnis hotel untuk menambah kontribusi pendapatan berkelanjutan. 

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunjukkan jumlah pengguna Internet di Indonesia pada 2015 sebanyak 93,4 juta. Angka itu naik 6,01% dari tahun sebelumnya yang sekitar 88,1 juta. 

Dari jumlah itu, 77% di antaranya aktif mencari informasi produk dan melakukan transaksi belanja online. Jumlah online shopper di negeri ini pada 2015 disebut sebanyak 7,4 juta orang dan diprediksi meningkat menjadi 8,7 juta orang tahun ini.

Adapun nilai total transaksi e-commerce menyentuh US$3,56 miliar pada 2015 dan diproyeksi tumbuh hingga 37,35% tahun ini menjadi US$4,89 miliar. Angka yang sangat fantastis dan diyakini bakal terus meningkat dalam tahun-tahun berikutnya.

Menilik data tersebut, tidak heran jika Pos Indonesia memilih berkonsentrasi di segmen paket dan logistik. Gilarsi menyatakan 4.380 kantor pos di seluruh Indonesia yang dimiliki perseroan menjadi kekuatan untuk menangkap permintaan dari rural area.

Kekuatan ini dimanfaatkan perusahaan dalam kerja sama dengan sejumlah perusahaan BUMN lain, baik yang bergerak di bidang logistik, transportasi, asuransi, manufaktur, hingga pertanian. Pos Indonesia juga bermitra dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk membantu lembaga tersebut dalam pengambilan data di lapangan. 

Seluruh kerja sama tersebut diklaim tidak hanya ditujukan untuk sinergi antar perusahaan milik pemerintah, tetapi juga dalam pemangkasan rantai distribusi dan biaya. 

Selain menguatkan jaringan di dalam negeri, Pos Indonesia juga menambah kemitraan dengan partner asing. Pada Januari 2016, perseroan meneken kerja sama dengan DHL Express Indonesia untuk penyaluran Express Mail Service (EMS) ke luar negeri dan Anchanto dari Singapura untuk menggenjot kinerja lini bisnis logistik. 

Kemitraan dengan DHL tidak hanya soal EMS, tapi juga penyediaan akses bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke pasar global. Adapun lewat kerja sama dengan Anchanto, perusahaan mendapat bantuan layanan teknologi terkait pergudangan dan penyimpanan barang, proses pemesanan, serta pengiriman barang yang dibutuhkan bisnis e-commerce.

Lalu, awal bulan ini perseroan juga resmi melakukan kerja sama dengan GD Express Carrier Berhad dari Malaysia, perusahaan kurir terbesar kedua di Negeri Jiran setelah Pos Malaysia dengan pendapatan US$46,88 juta.

Anak usaha GD Express Sdn Berhad itu mengakui luasnya jaringan Pos Indonesia sebagai salah satu alasan dijalinnya kemitraan. CEO GD Express Teong Teck Lean mengungkapkan Indonesia mempunyai potensi pasar yang sangat besar karena jumlah penduduknya merupakan yang terbanyak di Asean dan sebagian besar berusia muda.

“Mengingat infrastruktur yang mereka miliki, mereka bisa meningkatkan level pelayanan kepada para pelanggan sehingga bisa menjadi yang terbesar di Indonesia,” tuturnya.

Berbagai kerja sama itu dilakukan di luar kemitraan dengan perusahaan pos milik pemerintah negara lain, seperti Pos Malaysia. Gilarsi mengindikasikan perluasan jaringan di luar negeri, demi mendukung kapasitas dan kapabilitas perusahaan, tidak akan berhenti karena pihaknya tengah menjajaki kerja sama serupa dengan calon partner di Jepang dan China. “Kami mencari partner semacam itu karena dunia semakin sempit, semakin shrinking,” tukasnya. 

Dengan bekal berbagai kemitraan tersebut, perseroan membidik porsi bisnis minimal 10% dari market share yang dikuasai para pemain pos dan logistik terbesar dunia. Gilarsi bahkan meyakini target itu dapat tercapai dalam lima tahun ke depan.

Direktur Ritel dan Properti Pos Indonesia GNP Sugiarta Yasa menambahkan logistik merupakan bisnis yang sangat kompetitif. “Karena itu kami menggunakan keunikan di sisi sebaran outlet. Kami juga punya jaringan internasional karena tergabung dengan asosiasi internasional baik di tingkat Asia Pasifik maupun global,” ungkapnya.

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Hanafi mengakui pengusaha logistik nasional masih kalah dari perusahaan logistik asing karena keterbatasan infrastruktur. “Infrastruktur dan jaringan kita memang masih kalah karena bisnis logistik di Indonesia baru berkembang sekitar 5 hingga 10 tahun lalu,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ALFI mendorong pengusaha lokal untuk terus meningkatkan layanan sembari memperluas jaringan dan memperbaiki infrastruktur termasuk di sisi teknologi. Pasalnya, perkembangan konsep bisnis saat ini tidak bisa dielakkan lagi dan menuntut para pelaku usaha untuk terus beradaptasi.

DIGITALISASI LAYANAN

Dengan perkembangan teknologi dan pergeseran fokus bisnis ke segmen paket serta logistik, memanfaatkan bisnis e-commerce, Pos Indonesia tentunya membutuhkan dukungan infrastruktur teknologi informasi (TI) yang mumpuni.

Saat ini, perseroan tengah bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan pemetaan TI. “Saya minta ditunjukkan apa arsitektur infrastruktur TI Pos Indonesia yang salah selama ini dan letak kesalahannya. Kemudian, saya minta mereka tunjukkan infrastruktur TI seperti apa yang bisa memenuhi kebutuhan bisnis kami untuk lima tahun ke depan,” papar Gilarsi.

Pos Indonesia juga bakal melakukan semacam pameran internal yang menjadi ajang bagi divisi TI perseroan untuk mendemonstrasikan apa saja yang sudah dilaksanakan. Langkah tersebut diharapkan dapat memberi masukan bagi upaya transformasi perusahaan.

Nantinya, perseroan berniat bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) untuk pengembangan infrastruktur TI selanjutnya.

Bila semua transformasi tersebut terwujud, bukan tidak mungkin target Pos Indonesia mengambil pasar bisnis pos dan logistik dunia terealisasi. 

 

Annisa Margrit

Fajar Sidik

 

POS INDONESIA

Mempertajam Arah Transformasi di Era Digital

 

Hari ini kugembira, melangkah di udara

Pak Pos membawa berita dari yang kudamba

Sepucuk surat yang manis, warnanya pun merah hati

Bagai bingkisan pertama, tak sabar kubuka

 

Penggalan lirik lagu Surat Cinta yang dinyanyikan Vina Panduwinata itu tampaknya hanya diingat oleh generasi yang lahir di era 1980 ke atas. Masa-masa ketika kunjungan dari tukang pos nyaris terjadi tiap hari di tiap rumah.

 

Tidak hanya mengantarkan surat cinta dari kekasih, tapi juga surat dari keluarga, teman, rekan sejawat, atau surat pemberitahuan dari majalah mengenai dimuatnya cerita pendek yang dikirimkan. Sekarang, semuanya sudah digantikan oleh SMS, email, Whatsapp, Line, dan aplikasi pengirim pesan lainnya.

 

Ditinggalkannya dunia surat menyurat pun disadari benar oleh PT Pos Indonesia (Persero). Perusahaan pelat merah ini tidak bisa lagi mengandalkan segmen surat jika ingin mempertahankan eksistensi dan mendongkrak kinerja, apalagi masyarakat Indonesia tidak punya tradisi surat menyurat yang mengakar seperti di Jepang. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pun sudah berjalan sehingga kompetisi diyakini bakal makin ketat.

 

Tahun lalu, perseroan membukukan pendapatan Rp4,6 triliun atau tidak jauh dari perolehan 2014 yang sebesar Rp4,4 triliun. Tetapi, tidak tanggung-tanggung target 2016 ditetapkan senilai Rp10 triliun. Meski hanya disebut sebagai target psikologis, tapi Pos Indonesia optimistis pertumbuhan dua kali lipat bisa diraih.

 

Untuk itu, perusahaan pun berupaya bertransformasi diri dengan lebih fokus di logistik dan distribusi termasuk dengan menjadi backhand e-commerce bagi pasar bisnis online.

 

Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsi Wahju Setijono mengatakan kebutuhan terhadap paket tidak akan pernah hilang. Dengan perkembangan e-commerce, potensi yang bisa digarap sangat besar terutama di daerah perdesaan atau pinggiran kota besar. “Pertumbuhan ekonomi pada rural area membuat demand dari daerah-daerah tersebut terhadap barang-barang dari kota semakin tinggi,” ujarnya.

 

Gilarsi menyebutkan dari total PDB Indonesia pada 2014 yang senilai Rp10.500 triliun, sebanyak 25% di antaranya disumbangkan oleh daerah-daerah di pelosok Nusantara. Potensi Rp2.500 triliun inilah yang diharapkan dapat diserap oleh perseroan, ketimbang berkompetisi menggarap kue di area perkotaan.

 

Namun, hingga kini Pos Indonesia baru mampu menyerap sekitar Rp5 triliun di antaranya. Menurutnya, hal ini menunjukkan hambatan yang dihadapi perusahaan sebenarnya adalah kecepatan dan ketangkasan dalam memanfaatkan peluang.

 

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika perseroan terus menggenjot performa bisnis PT Pos Logistik. Seperti namanya, anak usaha Pos Indonesia ini bertanggung jawab menggarap bisnis logistik, dan ditargetkan dapat masuk ke lantai bursa pada 2019 ketika nilai asetnya mencapai Rp10 triliun. Saat ini, aset perusahaan masih di bawah Rp1 triliun.

 

FOKUS BISNIS

Anak usaha properti pun diarahkan agar fokus ke pengembangan gudang dan processing centre, sebagai bagian dari pertumbuhan bisnis e-commerce. Padahal, sebelumnya Pos Indonesia menyampaikan akan masuk ke bisnis hotel untuk menambah kontribusi pendapatan berkelanjutan. 

 

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunjukkan jumlah pengguna Internet di Indonesia pada 2015 sebanyak 93,4 juta. Angka itu naik 6,01% dari tahun sebelumnya yang sekitar 88,1 juta. 

 

Dari jumlah itu, 77% di antaranya aktif mencari informasi produk dan melakukan transaksi belanja online. Jumlah online shopper di negeri ini pada 2015 disebut sebanyak 7,4 juta orang dan diprediksi meningkat menjadi 8,7 juta orang tahun ini.

 

Adapun nilai total transaksi e-commerce menyentuh US$3,56 miliar pada 2015 dan diproyeksi tumbuh hingga 37,35% tahun ini menjadi US$4,89 miliar. Angka yang sangat fantastis dan diyakini bakal terus meningkat dalam tahun-tahun berikutnya.

 

Menilik data tersebut, tidak heran jika Pos Indonesia memilih berkonsentrasi di segmen paket dan logistik. Gilarsi menyatakan 4.380 kantor pos di seluruh Indonesia yang dimiliki perseroan menjadi kekuatan untuk menangkap permintaan dari rural area.

 

Kekuatan ini dimanfaatkan perusahaan dalam kerja sama dengan sejumlah perusahaan BUMN lain, baik yang bergerak di bidang logistik, transportasi, asuransi, manufaktur, hingga pertanian. Pos Indonesia juga bermitra dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk membantu lembaga tersebut dalam pengambilan data di lapangan. 

 

Seluruh kerja sama tersebut diklaim tidak hanya ditujukan untuk sinergi antar perusahaan milik pemerintah, tetapi juga dalam pemangkasan rantai distribusi dan biaya. 

 

Selain menguatkan jaringan di dalam negeri, Pos Indonesia juga menambah kemitraan dengan partner asing. Pada Januari 2016, perseroan meneken kerja sama dengan DHL Express Indonesia untuk penyaluran Express Mail Service (EMS) ke luar negeri dan Anchanto dari Singapura untuk menggenjot kinerja lini bisnis logistik. 

 

Kemitraan dengan DHL tidak hanya soal EMS, tapi juga penyediaan akses bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke pasar global. Adapun lewat kerja sama dengan Anchanto, perusahaan mendapat bantuan layanan teknologi terkait pergudangan dan penyimpanan barang, proses pemesanan, serta pengiriman barang yang dibutuhkan bisnis e-commerce.

 

Lalu, awal bulan ini perseroan juga resmi melakukan kerja sama dengan GD Express Carrier Berhad dari Malaysia, perusahaan kurir terbesar kedua di Negeri Jiran setelah Pos Malaysia dengan pendapatan US$46,88 juta.

 

Anak usaha GD Express Sdn Berhad itu mengakui luasnya jaringan Pos Indonesia sebagai salah satu alasan dijalinnya kemitraan. CEO GD Express Teong Teck Lean mengungkapkan Indonesia mempunyai potensi pasar yang sangat besar karena jumlah penduduknya merupakan yang terbanyak di Asean dan sebagian besar berusia muda.

 

“Mengingat infrastruktur yang mereka miliki, mereka bisa meningkatkan level pelayanan kepada para pelanggan sehingga bisa menjadi yang terbesar di Indonesia,” tuturnya.

 

Berbagai kerja sama itu dilakukan di luar kemitraan dengan perusahaan pos milik pemerintah negara lain, seperti Pos Malaysia. Gilarsi mengindikasikan perluasan jaringan di luar negeri, demi mendukung kapasitas dan kapabilitas perusahaan, tidak akan berhenti karena pihaknya tengah menjajaki kerja sama serupa dengan calon partner di Jepang dan China.

 

“Kami mencari partner semacam itu karena dunia semakin sempit, semakin shrinking,” tukasnya. 

 

Dengan bekal berbagai kemitraan tersebut, perseroan membidik porsi bisnis minimal 10% dari market share yang dikuasai para pemain pos dan logistik terbesar dunia. Gilarsi bahkan meyakini target itu dapat tercapai dalam lima tahun ke depan.

 

Direktur Ritel dan Properti Pos Indonesia GNP Sugiarta Yasa menambahkan logistik merupakan bisnis yang sangat kompetitif. “Karena itu kami menggunakan keunikan di sisi sebaran outlet. Kami juga punya jaringan internasional karena tergabung dengan asosiasi internasional baik di tingkat Asia Pasifik maupun global,” ungkapnya.

 

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Hanafi mengakui pengusaha logistik nasional masih kalah dari perusahaan logistik asing karena keterbatasan infrastruktur. “Infrastruktur dan jaringan kita memang masih kalah karena bisnis logistik di Indonesia baru berkembang sekitar 5 hingga 10 tahun lalu,” ungkapnya.

 

Oleh karena itu, ALFI mendorong pengusaha lokal untuk terus meningkatkan layanan sembari memperluas jaringan dan memperbaiki infrastruktur termasuk di sisi teknologi. Pasalnya, perkembangan konsep bisnis saat ini tidak bisa dielakkan lagi dan menuntut para pelaku usaha untuk terus beradaptasi.

 

DIGITALISASI LAYANAN

Dengan perkembangan teknologi dan pergeseran fokus bisnis ke segmen paket serta logistik, memanfaatkan bisnis e-commerce, Pos Indonesia tentunya membutuhkan dukungan infrastruktur teknologi informasi (TI) yang mumpuni.

 

Saat ini, perseroan tengah bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan pemetaan TI. “Saya minta ditunjukkan apa arsitektur infrastruktur TI Pos Indonesia yang salah selama ini dan letak kesalahannya. Kemudian, saya minta mereka tunjukkan infrastruktur TI seperti apa yang bisa memenuhi kebutuhan bisnis kami untuk lima tahun ke depan,” papar Gilarsi.

 

Pos Indonesia juga bakal melakukan semacam pameran internal yang menjadi ajang bagi divisi TI perseroan untuk mendemonstrasikan apa saja yang sudah dilaksanakan. Langkah tersebut diharapkan dapat memberi masukan bagi upaya transformasi perusahaan.

 

Nantinya, perseroan berniat bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) untuk pengembangan infrastruktur TI selanjutnya.

 

Bila semua transformasi tersebut terwujud, bukan tidak mungkin target Pos Indonesia mengambil pasar bisnis pos dan logistik dunia terealisasi. 

Apps Bisnis.com available on: