Jawa Barat - Bisnis.com
Senin, 21 Mei 2018

Mewaspadai Bahaya Di Media Sosial

Mariyana Ricky Rabu, 24/02/2016 08:00 WIB
Mewaspadai Bahaya di Media Sosial

SOLO – Keberadaan sosial media telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Bahkan, berbagi foto dan tulisan ke dunia maya menjelma sebagai gaya hidup. Seluruhnya dapat dilakukan dengan gampang, semudah mengusap layar ponsel. Tapi, di balik kemudahan tersebut, hal-hal negatif mengintai di belakangnya.

Baru-baru ini merebak kabar mengenai sekelompok pedofilia yang membuat grup Facebook rahasia untuk berbagi foto remaja di bawah umur. Mereka mengumpulkan foto-foto tersebut lewat unggahan remaja atau orang tua remaja itu sendiri. Foto-foto tersebut lantas disalahgunakan menjadi objek fantasi seksual oleh grup rahasia itu.

Melansir BBC UK, belum lama ini, temuan grup rahasia tersebut berdasarkan investigasi yang dilakukan tim BBC. Mereka menyamar dengan membuat akun atas nama seseorang hingga dapat diterima di grup rahasia itu. Setelah berada di dalamnya, tim itu mendapati banyaknya postingan dan foto remaja di bawah umur yang berasal dari berbagai sumber. Mayoritas postingan tersebut adalah foto gadis berseragam yang diikuti komentar-komentar tidak pantas.

Foto yang muncul kebanyakan berasal dari blog, sosial media pribadi, sampai dokumentasi diam-diam di tempat publik. BBC kemudian menyoroti tidak adanya fitur saringan konten seksual yang melibatkan anak-anak di Facebook. Terlebih, grup tersebut bersifat rahasia, sehingga tak bisa tampak oleh akun yang bukan anggota. Akibatnya, anggotanya bersifat terbatas dan sulit untuk dilaporkan sebagai penyalahgunaan informasi dan teknologi (IT).

Di sisi lain, Facebook membebaskan setiap orang untuk membuat sebuah grup, dengan tiga jenis pengaturan. Aturan itu meliputi, grup terbuka, grup tertutup, dan grup rahasia. Grup rahasia tak bisa ditemukan lewat fasilitas pencarian dan cuma anggotanya yang dapat melihat konten grup. Anggota baru hanya dapat diundang oleh anggota lama untuk bisa bergabung.

Lantaran bersifat rahasia, grup-grup tersebut bebas melenggang dan melakukan aktivitasnya. Bukan tidak mungkin, obrolan-obrolan tidak pantas di dalam grup itu dapat terjadi di dunia nyata hingga timbul korban. Sementara tertulis jelas bahwa konten yang dianggap melanggar ketentuan privasi dapat dilaporkan sampai Facebook menurunkannya dari situs tersebut. Tapi, jika hanya anggotanya yang terlibat, fitur tersebut tentu tidak bisa dilakukan, karena seluruhnya menyetujui postingan itu ada.

Ketentuan Facebook juga menyampaikan ihwal larangan unggahan yang memuat materi seksual yang tak layak dinikmati khalayak umum. Namun, terkadang pelaporan yang dilakukan berbuah sia-sia apabila Facebook menyebut postingan itu tidak melanggar standar komunitas. Alhasil, unggahan tersebut tetap ada dan dapat diakses.

Kendati begitu, fitur pelaporan dapat dilakukan oleh pengguna Facebook umum apabila dilakukan di grup terbuka. Grup terbuka dapat diakses siapa saja, meski untuk berkomentar atau mengunggah postingan terlebih dahulu harus menjadi anggota grup. Begitu pula dengan grup tertutup. Perbedaannya, postingan di grup tertutup hanya boleh diakses oleh anggotanya. Keduanya dapat ditemukan lewat kolom pencarian, sehingga dapat dengan mudah diawasi.

Apps Bisnis.com available on: