Jawa Barat - Bisnis.com
Minggu, 17 Desember 2017

Agen Perjalanan Malaysia Kembali Mengeluh, Tiket Tangkuban Parahu Kemahalan

Wisnu Wage Minggu, 13/12/2015 18:11 WIB
Agen Perjalanan Malaysia Kembali Mengeluh, Tiket Tangkuban Parahu Kemahalan
Wisatawan menikmati area Gunung Tangkuban Parahu
Jibiphoto

Bisnis.com, BANDUNG - Sejumlah biro perjalanan wisata Malaysia yang sudah biasa membawa wisatawan Malaysia maupun mancanegara ke Indonesia dan Jabar khususnya, mengeluhkan tiket masuk ke sejumlah objek wisata.

Di Jabar, tiket masuk Tangkuban Parahu yang sangat mahal menjadi sorotan biro perjalanan  wisata Malaysia tersebut. Namun bukan hanya Tangkuban Parahu, objek lainnya yang dibawah Kementerian Kehutanan yang sudah diberikan izinnya ke pihak swasta seperti Bromo (Jatim) dan Taman Nasional Gn Leusuer Bahorok (Sumut) juga bertarif mahal.

Keluhan biro perjalanan diatas diungkapkan dalam acara sales mission promosi pariwisata yang diadakan Kementerian Pariwisata di Kuala Lumpur Malaysia, belum lama ini.

Dari rilis yang diterima Bisnis, Minggu (13/12/2015), anggota BPPD Jabar Maktal Hadiyat yang mengikuti sales mission, para agen Malaysia ini juga mengeluhkan sejumlah kondisi fasilitas di tempat wisata.

“Transportasi ontang-anting di Kawah Putih dinilai mereka kurang laik, termasuk juga sarana kebersihan di musala,” kata Maktal menirukan keluhan sejumlah agen.

Seperti diketahui, sejak 2014 PT GRPP yang mengelola Tangkuban Parahu menaikkan tiket masuk ke kawasan itu dari Rp15.000 menjadi Rp20.000 untuk wisatawan nusantara pada hari biasa. Pada hari libur, kenaikan dari Rp22.500 menjadi Rp30.000. Sedangkan untuk wisman, dari Rp100.000 menjadi Rp200.000 pada hari biasa dan dari Rp150.000 menjadi Rp300.000 pada hari libur.

Kondisi semacam itu dihawatirkan mengurangi ketertarikan biro perjalanan Malaysia untuk membawa tamunya ke Jabar dan Bandung khususnya.

“Ya jika kurang menguntungkan…Mereka tidak akan mencantumkan lagi Bandung,” katanya. Apalagi dalam Perpres tentang Bebas Visa, ternyata tidak berlaku untuk Bandara Husein Sastranegara yang masih tetap memungut biaya visa.

Sales mission di Kuala Lumpur diikuti 20 perusahaan, hotel dan biro perjlanan yang memiliki objek wisata di Jabar. Sementara dari Malaysia hadir 20 tour operator / biro perjalanan yang umumnya sudah sering membawa tamu2nya baik  individual maupun group.

Hilwan menyebut, masih banyak yang harus dilakukan pemangku kepariwisataan di Jabar bila ingin menggaet atau menarik wisatawan China ke Jabar. Dari promosi yang dilakukan BPPD Jabar di China International Travel Mart (CITM), 13-15 November 2015 lalu di Kunming, para pengunjung mempertanyakan sejumlah kondisi di Jabar, mulai dari keamanan, kenyamanan transportasi dan akomodasi.

Bahkan beberapa pengunjung ke meja BPPD Jabar di booth Indonesia menanyakan masalah bahasa.

“Ada yang menanyakan, jika dengan keterbatasan berbahasa Inggris, apakah kami bisa berwisata di Jabar,” kata  anggota BPPD Jabar Uyun Achadiat , yang ikut mempromosikan wisata Jabar bersama Kementerian Pariwisata.

Dengan bantuan mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di China, BPPD Jabar mampu memberikan penjelasan tentang berbagai destinasi di Jabar. Selain mempromosikan sejumlah objeks wisata unggulan,  Ciletuh yang tengah disiapkan Pemprov Jabar untuk menjadi destinasi unggulan juga dipromosikan dengan bantuan standing banner.

"Kami menginfokan. tahun depan Ciletuh sudah bisa dikunjungi dengan nyaman.“

Wisatawan China umumnya kurang paham Bahasa Inggris sehingga jika akan dijadikan pasar, tulisan berbahasa mandarin perlu dilekatkan diberbagai objek wisata dan sarana penunjangnya, disamping menggunakan Bahasa Inggris.

Apps Bisnis.com available on: