Jawa Barat - Bisnis.com
Jum'at, 24 Mei 2019
header atas

Rumah Cemara Ikuti Pertemuan Nasional AIDS Ke-5 Di Makassar

Agne Yasa Minggu, 25/10/2015 20:11 WIB
Rumah Cemara Ikuti Pertemuan Nasional AIDS ke-5 di Makassar
Ilustrasi

Bisnis.com, BANDUNG – Rumah Cemara mengikuti Pertemuan Nasional AIDS ke-5 di Makassar. Adapun Pertemuan Nasional AIDS ke-5 (Pernas AIDS V) akan digelar di Hotel Sahid Jaya, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 27 - 29 Oktober 2015. Mengawali kegiatan ini, sebuah pertemuan forum komunitas digelar selama dua hari, pada 25 - 26 Oktober 2015 di tempat yang sama.

Pernas AIDS merupakan forum diskusi nasional yang rutin dilakukan antara para pemangku kepentingan dari setiap tingkatan dan sektor (pemerintah dan komunitas) untuk melakukan peninjauan bersama dan berbagi pengalaman atas situasi epidemi HIV dan AIDS di Indonesia, serta berbagai upaya penanggulangan yang telah dilakukan dan tantangan ke depan.

Mengusung tema besar ‘Saatnya Semua Bertindak’, Pernas AIDS V diharapkan dihadiri sekurangnya 1500 orang peserta, termasuk para pejabat di tingkat nasional dan para pimpinan daerah, instansi dan lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, perusahaan swasta, akademisi, praktisi penggiat HIV dan AIDS, Persatuan Bangsa Bangsa dan mitra internasional, serta jaringan komunitas Odha dan populasi terdampak HIV.

Rumah Cemara, sebuah organisasi berbasis komunitas yang aktif dalam penanggulangan HIV dan AIDS dan Narkoba, menilai Pernas AIDS V merupakan perhelatan penting bagi semua kalangan, termasuk masyarakat sipil, untuk mengambil peranan dalam mengendalikan HIV dan AIDS secara bersama-sama.

“Kami melihat momen Pernas AIDS sebagai kesempatan untuk terlibat lebih jauh, belajar dan mengambil peranan dalam permasalahan yang kita hadapi bersama. Penanggulangan HIV dan AIDS, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri," ujar Direktur Rumah Cemara Anton M. Djajaprawira dalam rilis yang diterima Bisnis.

Anton menambahkan, secara khusus, Rumah Cemara menggunakan event ini sebagai media untuk ruang diskusi terkait dengan kebijakan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) dan pengurangan dampak buruk narkoba (Harm Reduction) dalam kerangka proyek Asia Action on Harm Reduction yang didukung European Union dan Community Action on Harm Reduction dukungan Kementerian Luar Negeri Belanda.

Dalam sebuah pertemuan di Bogor awal 2015, komunitas masyarakat sipil dukungan Rumah Cemara, Badan PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menyepakati untuk membuat rancangan cetak biru kebijakan NAPZA.

Anton juga berharap, melalui Pernas AIDS V ini perhatian pemerintah dapat ditingkatkan terutama dalam menyiapkan strategi ke depan menyangkut keberlangsungan pengobatan dan pendampingan kesehatan untuk orang dengan HIV dan AIDS agar lebih baik.

Dalam menyukseskan Pernas AIDS V, Rumah Cemara mendukung pemberangkatan sebuah delegasi berjumlah 33 orang yang terdiri dari perwakilan berbagai komunitas yang aktif dalam isu AIDS dan narkoba, serta dari unsur pemerintahan dari sejumlah provinsi di Indonesia.

Menurut Anton, pemberangkatan rombongan untuk mengikuti Pernas AIDS V ini bertujuan untuk berbagi pengalaman dan keberhasilan program yang telah mempunyai dampak dan manfaat bagi komunitas.

“Kami juga ingin berbagi data atau evidence yang kami miliki selama menjalankan kegiatan sehingga ke depannya kita bisa mempunyai strategi yang lebih baik untuk perkembangan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia,”ujarnya.

Seperti diketahui, laporan Kementerian Kesehatan RI pada Triwulan I tahun 2015 mencatat jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan dari tahun 1987 sampai dengan Maret 2015 sebanyak 167.350 kasus. Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (35.716), Jawa Timur (21.632), Papua (18.147), Jawa Barat (15.004), dan Bali (10.750). Pada jumlah kumulatif AIDS, tercatat sebanyak 66.835 orang. Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Timur (12.352), Papua (11.841), DKI Jakarta (8.019), Bali (4.811), dan Jawa Barat (4.210).

Pernas AIDS V akan menggelar secara paralel berbagai topik dan akan bermuara pada pemantapan strategi untuk mengakhiri epidemi AIDS pada tahun 2030 (Fast-track Strategy to Ending AIDS by 2030), termasuk diantaranya diskusi mengenai strategi pendanaan program penanggulangan AIDS baik ditingkat nasional dan daerah pasca berkurangnya dukungan pendanaan luar negeri.

Selain itu akan digelar pula pameran komunitas dan perusahaan swasta yang telah banyak terlibat secara aktif dalam upaya penanggulangan AIDS di Indonesia. (k5)