Jawa Barat - Bisnis.com
Sabtu, 16 Desember 2017

Forum Riset Vaksin Nasional, Mengalir Sampai Hilir

Yanto Rachmat Iskandar Sabtu, 29/08/2015 11:42 WIB
Forum Riset Vaksin Nasional, Mengalir Sampai Hilir
Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Iskandar (dari kiri), Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Roy A. Sparringa, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati, Peneliti dan Kepala Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Sangkot Marzuki, dan Komisaris Bio Farma Heridadi saat membuka Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) 2015 di Jakarta, Rabu (26
8).

Kabar menggembirakan muncul dari lanjutan pertemuan Forum Riset Vaksin Nasional yang digelar di Jakarta pada Agustus 2015. Perkembangan yang cepat ditunjukkan oleh tiga konsorsium dalam Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) yaitu Hepatitis B, Eritropoetin (EPO), dan HIV yang dalam waktu tidak lama lagi akan mampu melahirkan produk asli karya Anak Bangsa.

Pencapaian tiga konsorsium dari total lima konsorsium serta tujuh working group dalam FRVN ini mendorong rasa optimisme lebih tinggi lagi bagi semua pihak yang terlibat dalam program itu untuk bekerja lebih keras dan tentunya lebih erat.

FRVN yang melibatkan BUMN PT Bio Farma (Persero) dan sejumlah kementerian/lembaga pemerintahan, serta lembaga-lembaga lainnya, siap mengantarkan Bangsa Indonesia menuju era kemandirian atau kedaulatan Bangsa Indonesia dalam bidang life science.

Direktur Utama Bio Farma Iskandar menuturkan forum ini dicetuskan saat pencanangan Dekade Vaksin 2011-2020.

Dua bulan setelah diumumkan, Bio Farma lantas berinisiatif melahirkan forum yang bertujuan untuk mengikuti arah perkembangan global. Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) pun kemudian terlaksana pada bulan Juli 2011.

Bagi Iskandar, selama lima tahun perjalanan forum riset ini, pada awalnya dirinya hanya menargetkan untuk menyamakan visi saja. Seperti bagaimana melakukan riset yang mampu menghasilkan produk. Maka disusunlah sejumlah tahapan pada pelaksanaan forum riset vaksin mulai harmonisasi hingga hilirisasi.

“Ternyata, dalam perkembangannya sungguh lebih dari yang kami harapkan. Masyarakat bisa menyaksikan hasil nyata kerja konsorsium ini,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, sebagai pihak yang mewakili kalangan industri pihaknya akan mengawal supaya program ini benar-benar mampu melahirkan sebuah produk seperti yang dicita-citakan. “Kami juga tentunya meminta dukungan dari semua pihak untuk program sinergi ini,” katanya.

Iskandar meyakini bahwa perjalanan forum riset ini sudah berada di jalur yang benar untuk melakukan riset-riset yang akan menghasilkan sejumlah produk.

Menurutnya, dalam jangka waktu sekitar 3 tahun hingga 4 tahun ke depan, forum sudah bisa menghasilkan produk-produk yang sekarang masih dalam proses riset.

Kabar menggembirakan lainnya, menurut Iskandar, berupa bertambahnya dukungan dari berbagai pihak pada program ini.

FRVN melibatkan ratusan peneliti yang berasal antara lain dari 7 universitas negeri di Pulau Jawa, 3 universitas  negeri di luar Pulau Jawa, serta 4 universitas swasta di Pulau Jawa.

Selain itu, juga terlibat dalam program ini 1 rumah sakit swasta. rumah sakit negeri, serta 6 institusi riset pemerintah dan lain-lain. “Tentunya keterlibatan semua pihak ini dalam rangka memberikan solusi kepada Bangsa Indonesia.”

M. Dimyati, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, mengatakan FRVN harus terus berjalan agar mampu menghasilkan produk-produk yang mampu dirasakan manfaatnya oleh Bangsa Indonesia.

Menurut Dimyati, pihaknya juga merespons positif hasil kerja yang ditunjukkan oleh konsorsium dalam riset vaksin tersebut.

 

 

 

“Saya kira kekhawatiran kontinuitas konsorsium itu terbantahkan. Bahwa hari ini masih berjalan menjadi pertanda bahwa pemerintah mempunyai komitmen untuk meneruskan perjalanan konsorsium ini, katanya.

Dia juga mengatakan pemerintah tentunya memiliki roadmap jelas tentang pembangunan di bidang kesehatan yang tentunya akan menyokong perjalanan forum riset ini.

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek juga mengatakan pihaknya senantiasa mendukung keberlanjutan program ini.

“Bukan mendukung bahkan kami menginstruksikan agar ini tetap berjalan dan tidak mungkin kalau ini tidak berjalan karena akan menyebabkan kerugian bagi kita,” katanya.

Menurutnya, pemerintah sudah memiliki roadmap yang mirip dengan Bio Farma dan Kementerian Ristek dan Dikti.

“Targetnya sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Kalau targetnya berlainan tentu tidak akan mencapai satu tiik. Jadi pasti kami mendukung sekali dan mendorong agar ini dipercepat supaya hasilnya bisa segera dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” katanya.

 

#Era Life Science#

PT Bio Farma merubah platform perusahaan yang semula dikenal publik sebagai penghasil vaksin menjadi penghasil produk life science.

Direktur Utama Bio Farma Iskandar mengungkapkan perusahaan sudah memutuskan untuk terjun menggarap bidang life science ini.

“Tinggal kita ingin menangkap peluang itu atau tidak atau berlama-lama. Kami menyatakan ingin terlibat. Memang harus ada niat dan masuk  ke aliran mainstream global,” katanya.

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Roy Alexander Sparringa menilai kinerja Bio Farma terus menunjukkan perkembangan yang positif.

“Bio Farma bagus dan tentunya kami juga terus melakukan pantau. Mereka bisa berjualan karena Badan POM juga mengawalnya dan ini kami nilai cukup bagus untuk Indonesia,” katanya.

Roy mengatakan peluang untuk menggarap peluang bio similar oleh Bio Farma terbuka lebar mengingat adanya moment Zero Patent.

Dia mengatakan penggarapan produk bio similar ini berbeda misalnya dengan penggaran obat generik. Menurutnya, diperlukan keahlian khusus untuk menggarapnya. “Dan untungnya ada Bio Farma yang menjadi salah satu kekuatan kita yang siap melakukan sesuatu untuk masa depan kita. Jadi bio similar ini juga salah satu potensi besar,” katanya.

Peneliti Bio Farma Novilia S. Bahtiar mengatakan selama ini Bio Farma terdengar hanya memroduksi vaksin. Sekarang ini, perusahaan memang sudah mulai melakukan hilirisasi ke arah bidang life science.

“Jadi cakupannya akan menjadi lebih luas. Mencakup berbagai hal termasuk vaksin, termasuk terapi nya.  Termasuk diagnostik. Makanya temanya itu life science karena EPO bukan vaksin tapi untuk terapi yang merupakan produk bio similar.”

Dia mengatakan sisi positif kelahiran produk-produk life science buatan Anak Bangsa itu tentunya akan melahirkan produk-produk yang lebih murah dibandingkan dengan produk yang beredar saat ini dan tentunya mampu mendongkrak kualitas sumber daya manusia.

Apps Bisnis.com available on: