Jawa Barat - Bisnis.com
Senin, 18 Desember 2017

PEREKONOMIAN DAERAH: Membuka Jalan Pengusaha Mengais Asa (Bagian 1)

Abdalah Gifar Senin, 13/07/2015 19:25 WIB
PEREKONOMIAN DAERAH: Membuka Jalan Pengusaha Mengais Asa (Bagian 1)
Ilustrasi
Jibiphoto

Bicara kondisi perekonomian yang dirasakan pelaku usaha ataupun pasar ibarat peribahasa “sakit sama mengaduh, luka sama mengeluh” yang artinya se-iya sekata dalam semua keadaan. Kondisinya sama, ujungnya mencoba mengais asa.

Hal itu pula yang mencuat dalam Seminar Perkembangan dan Prospek Perekonomian kepada Para Pelaku Usaha dan Stakeholder di Jawa Barat yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat yang juga diikuti Bisnis, belum lama ini.

Acara diikuti para pelaku usaha dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar dan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) Jabar. Adapun narasumbernya yaitu Kepala Ekonom Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat dan Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia T.M. Arief Machmud.

Ketua Apindo Jabar Dedy Widjaja mengatakan pengusaha khususnya di Jawa Barat saat ini tidak memiliki keyakinan yang dapat dijadikan pegangan ataupun landasan untuk menatap prospek ekonomi ke depan.

“Pengusaha saat ini seperti tidak memiliki guidelines. Apakah pengusaha masih harus menunggu dan tetap diam atau mulai bergerak? Jangan sampai kami bergerak tetapi malah masuk jurang,” katanya dalam pembukaan acara di hadapan para hadirin.

Di awal seminar, secara rigid dipaparkan himpitan perlambatan ekonomi domestik dan ketidakpastian perekonomian global yang berkiblat ke situasi kekinian Amerika Serikat berserta The Fed-nya, serta kondisi sejumlah negara lainnya, seperti China, Jepang, dan Eropa.

TANTANGAN

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia T.M. Arief Machmud dalam paparannya memandang perekonomian Tanah Air mengalami setidaknya lima tantangan yang menekan pertumbuhan ekonomi nasional.

Kelima tantangan tersebut meliputi, pemulihan ekonomi global yang masih rentan, harga komoditas ekspor yang terus turun, pertumbuhan ekonomi yang melambat, tekanan capital outflow dan nilai tukar, serta inflasi bahan pangan.

“Kami dan pemerintah melakukan bauran kebijakan, melalui kebijakan moneter dengan menjaga stabilitas makroekonomi, kebijakan fiskal dengan mengoptimalkan ruang fiskal demi mendorong pertumbuhan, serta sektor struktural dengan mempercepat reformasi struktural,” tuturnya.

Apps Bisnis.com available on: