Jawa Barat - Bisnis.com
Kamis, 15 November 2018

Aspirin Bisa Picu Detak Jantung Lebih Cepat & Stroke?

Selly Astari Octaviani Jum'at, 10/07/2015 14:27 WIB
Aspirin Bisa Picu Detak Jantung Lebih Cepat & Stroke?

BANDUNG--Sepuluh dari seribu pasien dengan penyakit jantung salah mengambil aspirin – yang berarti lebih membahayakan dibandingkan membawa kebaikan, berdasarkan pada pengawas kesehatan.

The National Institute for Health dan Care Excellence (NICE) telah mengeluarkan panduan baru untuk GPs dan spesialis di rumah sakit mengatakan pada mereka untuk tidak meresepkan obat untuk kondisi atrial fibrillasi yang mengancam jiwa.

Hal ini mempengaruhi hingga 900.000 pasien di Inggris dan menyebabkan jantung mereka berdetak lebih cepat dan tidak teratur, sangat meningkatkan resiko stroke dan kematian lebih cepat.

Tapi angka-angka menunjukkan sebanyak satu dari tujuh – hingga 120.000 pasien – mengambil aspirin meskipun hal itu tidak efektif dan mungkin menyebabkan stroke.

Masalah telah terjadi karena hampir selama satu decade GPs dan dokter spesialis jantung diminta untuk meresepkan aspirin, karena obat itu dianggap dapat membantu untuk mengencerkan darah dan mencegah pembekuan mematikan yang menyebabkan stroke.

Tapi bukti baru telah muncul baru-baru ini menyoroti efek samping aspirin, yang meliputi pendarahan di perut dan, dalam kasus yang langka, pendarahan dalam otak yang sebenarnya memicu pada stroke. Studi juga menunjukkan aspirin jauh kurang efektif daripada obat pengencer darah yang kurang beresiko lainnya, seperti warfarin dan tipe obat generasi baru, yang meliputi rivaroxaban dan apixaban.

Pedoman dari NICE yang dikeluarkan untuk dokter akhir Juni lalu menjadi titik terang, tapi hari ini muncul peringatan yang mendesak berikut kekhawatiran terkait sepuluh dari seribu pasien masih menggunakan aspirin.

Pengawas telah mengatakan kepada dokter, mereka harus segera mengganti obat pasien dari aspirin ke obat lainnya. NICE telah menginstruksikan manajer untuk melaksanakan audit dari daerah mereka untuk menghitung berapa pasien yang masih menggunakan aspirin.

GPs juga telah diberitahu untuk melihat masih adakah pasien yang menggunakan obat itu setidaknya sekali dalam setahun untuk membuat mereka berhenti mengonsumsinya.

Pengawas sebelumnya memperkirakan 2.000 kematian dan 7000 penderita stroke di Inggris dalam setahun bisa dicegah jika pasien mengambil obat yang benar.

Profesor Gilian Leng, wakil kepala eksekutif NICE, mengatakan: “Atrial fibrillasi dapat menjadi kondisi yang meresahkan dan orang-orang dengan hal itu akan meningkatkan resiko memiliki stroke. Oleh karena itu penting bagi orang untuk mengatur kondisi mereka secara efektif untuk mengeliminasi resiko signifikan dari stroke.”

Dr Matthew Fay, GP yang berada di panel yang menyusun pedoman, mengatakan: “Hal ini harusnya memberikan dorongan kepada mereka yang masih berspekulasi pada nilai aspirin dari praktik sebelumnya untuk berdiskusi dengan pasien mereka mengenai manfaat antikoagulan sebelumnya, dan bukan sesudahnya, stroke yang merusak.”

Panduan tersebut bertepatan dengan survei pada 200 pasien dengan atrial fibrillation, terbawa oleh obat perusahaan Daiichi Sankyo UK, yang menunjukkan 13.7 persen masih mengonsumsi aspirin.

Atrial fibrillation meningkatkan resiko stroke lima kali lipat. Detak jantung yang tidak beraturan menghasilkan darah tidak dipompa secara efisien pada seluruh tubuh, yang berarti memungkinkan untuk mandek dan membentuk gumpalan. Hal ini pada saatnya akan memicu pada stroke.

Sumber: Dailymail.co.uk