Jawa Barat - Bisnis.com
Rabu, 19 September 2018

Daya Genggam Tangan Berkaitan Dengan Penyakit Jantung?

Newswire Senin, 18/05/2015 07:58 WIB
Daya Genggam Tangan Berkaitan dengan Penyakit Jantung?
ilustrasi
web

JAKARTA – Sebuah penelitian soal penyakit jantung dipublikasikan The Lancet  dengan judul The Prospective Urban-Rural Epidemiology (PURE) yang menunjukkan hubungan antara genggaman tangan dengan penyakit jantung.

Situs Sciencedaily belum lama ini mengunggah hasil penelitian itu. Sebagaimana dikutip dari Kantor Berita Antara, Minggu (17/5/2015), pegangan atau genggaman tangan yang lemah dihubungkan dengan keberlangsungan hidup yang pendek. Genggaman tangan lemah juga  memiliki risiko lebih besar mengalami serangan jantung atau stroke.

Penelitian ini melibatkan perguruan tinggi Institut Riset Kesehatan Populasi, Ilmu Kesehatan Hamilton dan  Universitas McMaster, Hamilton, Kanada. Penelitian dilakukan setiap empat tahun sekali

Hasil penelitian melibatkan hampir 140.000 orang dewasa usia 35-70 tahun dari 17 negara yang berlatar belakang budaya dan tingkat ekonomi yang berbeda.

Penelitian yang dipublikasikan di The Lancet, juga menemukan kuatnya pegangan tangan adalah alat prediksi kematian yang lebih kuat dari pada tekanan sistolik darah. Penelitian itu juga menyarankan tes genggaman tangan itu bisa digunakan sebagai alat pindai yang cepat dan murah oleh para dokter atau profesional kesehatan lainnya untuk mengidentifikasi pasien berisiko tinggi seperti  gagal jantung dan stroke.

Kekuatan Otot

Berkurangnya kekuatan otot, yang bisa diukur melalui kekuatan genggaman tangan, telah dihubungkan secara konsisten dengan kematian, cacat, dan penyakit. Namun hingga sekarang, informasi mengenai nilai prognostik kekuatan pegangan masih terbatas, dan utamanya didapat dari negara-negara tertentu berpendapatan tinggi.

Penemuan dari penelitian itu menunjukkan setiap lima kilogram penurunan pada kekuatan genggaman diasosiasikan dengan 16 persen peningkatan risiko kematian dari berbagai sebab; 17 persen risiko lebih besar atas kematian yang diakibatkan kardiovaskular, 17 persen risiko lebih tinggi kematian yang diakibatkan kematian non-kardiovaskular, dan peningkatan lebih rendah risiko mengalami serangan jantung (tujuh persen) atau stroke (sembilan persen).

PURE juga memperhatikan perbedaan pada faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kematian atau penyakit jantung seperti usia, level pendidikan, status kepegawaian, tingkat aktivitas fisik, dan penggunaan tembakau dan alkohol.

Pemimpin penelitian Dr Darryl Leong dari Institut Riset Kesehatan Populasi, Ilmu Kesehatan Hamilton dan  Universitas McMaster, Hamilton, Kanada mengatakan, “Kekuatan genggaman bisa menjadi tes yang mudah dan murah untuk menaksir risiko kematian seseorang dan penyakit kardiovaskular. Riset lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah upaya untuk meningkatkan kekuatan otot bisa mengurangi risiko kematian seseorang dan penyakit kardiovaskular.”

Mengomentari hasil penelitian itu, Professor Avan Aihie Sayer dari Universitas Southampton, Southampton, Inggris, dan Professor Thomas Kirkwood dari Universitas  Newcastle, Newcastle Tyne, Inggris mengatakan penemuan itu bukanlah hal baru.

“Ini bukan ide baru, namun penemuan dari PURE menambah dukungan. Hilangnya kekuatan genggaman tidak mungkin bergantung pada satu jalan umum final untuk efek merugikan penuaan, namun hal itu mungkin bisa menjadi penanda bagus tersendiri proses pokok penuaan, mungkin karena keanehan penyakit otot yang spesifik berkontribusi mengubah dalam fungsi otot.”