Jawa Barat - Bisnis.com
Senin, 23 Oktober 2017

Begini Cara Buat Rumah Tahan Gempa

Adi Selasa, 11/02/2014 12:37 WIB

Bisnis-jabar.com, YOGYAKARTA - Peristiwa gempa tektonik berkekuatan sekitar 6 skala richter yang menimpa Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Mei 2006, masih membekas erat di benak Danang Kismawan, warga Krapyak, Yogyakarta.

Betapa tidak, dampak dari gempa dahsyat tersebut, 80% rumah yang ditinggali pekerja swasta itu, rusak parah dan harus dibangun ulang.

Namun, untuk membangun kembali tempat tinggalnya itu, tentu tidak mudah, terutama terkait konstruksi yang tepat agar rumah barunya tahan terhadap gempa dan dipastikan memerlukan biaya tidak sedikit.

Dirinya sangat menginginkan rumah barunya tersebut tahan gempa, mengingat setelah peristiwa itu dirinya baru mengetahui kalau Tanah Air-nya terletak di antara tiga lempeng utama dunia, yakni Australia, Eurasia, dan lempeng Pasifik. Itulah kenapa menjadikan Indonesia kerap diterpa bencana gempa bumi.

"Ketika gempa 2006 lalu, hampir 80% rumah saya hancur, terutama atap. Sedangkan dinding tembok rumah tidak separah atapnya," tutur Danang mengawali kisahnya.

Dan setelah melihat dampak dari gempa waktu itu, dirinya memutuskan mengikuti saran ahli bangunan yang merenovasi rumahnya.

"Saat renovasi, yang bagian atas menggunakan sistem rangka yang katanya tahan terhadap gempa. Saya ikut saja saran itu, meski harus mengeluarkan biaya lebih besar karena kontruksinya cukup rumit katanya," ujar dia.

Ketika itu, Danang juga tidak memilih meniru desain proyek rumah percontohan tahan gempa bernama Dome atau mirip rumah 'teletubbies' yang bentuknya seperti rumah Iglo penduduk Eskimo. Menurutnya terlalu kecil dan tidak suka dengan bentuknya.

Awalnya, Danang cukup sayang mengeluarkan dana besar guna membangun kembali rumahnya yang besar dengan konstruksi tahan gempa tersebut.

Namun, peristiwa gempa Kebumen dengan kekuatan 5,6 skala richter yang terjadi beberapa pekan lalu, membuatnya tidak menyesali apa yang dipilihnya dulu meski harus mengeluarkan dana besar, karena sekarang terbukti lebih aman.

Her Pramtama, Arsitek dari US&P Architects mengatakan sebenarnya di Indonesia memiliki banyak rumah tradisional yang ternyata konstruksinya tahan gempa, seperti misalnya Rumah Gadang, rumah tradisonal di Bali, dll.

"Beberapa rumah tradisional itu sudah melalui serangkaian trial and error selama ratusan tahun lalu oleh nenek moyang," ujarnya.

Namun, begitu, seiring perkembangan jaman dan teknologi, serta memenuhi kebutuhan gaya hidup, tren pembangunan rumah tahan gempa pun semakin berkembang dengan berbagai macam bentuknya.

"Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan sebelum membangun rumah tahan gempa, misalnya pada saat merancang kavling, cek terlebih dahulu bagaimana kontur tanah yang akan dibangun rumah, apakah memiliki daya dukung yang kuat. Kalau lembek bisa-bisa rumahnya amblas," ujarnya.

Lalu, lanjutnya, dalam membuat konstruksi harus sudah memperhitungkan asumsi kekuatan gempa saat ini. "Kalau sekarang kekuatan gempa sudah sampai 8 skala richter, ya jangan pakai asumsi 6 skala richter, biar tahan terhadap goncangan. Ini ahli konstruksi lebih memahami, jadi sebaiknya juga menggunakan jasa mereka, jangan asal membangun," tuturnya.

Davi Sukamta Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) mengatakan untuk rumah tinggal tembokan sederhana, kunci ketahanan gempa adalah pemakaian balok pondasi (sloof), kolom praktis dan ring balok yang dibuat dari beton bertulang dan disatukan dengan pasangan batanya.

"Apabila rumah-rumah tinggal di Bantul dibuat dengan teknik seperti ini, niscaya korban jiwa yang jatuh disana akan sangat jauh berkurang," ujarnya.

Kunci kedua, lanjutnya adalah dengan memakai atap yang relatif ringan dan terikat dengan baik pada konstruksi atapnya. Rumah tradisional Sumatera Barat dengan atap seng-nya dan Bali dengan atap alang-alangnya menunjukkan kearifan nenek moyang, yang mana seharusnya diteruskan ke generasi saat ini.

"Kedua daerah rawan gempa ini telah memilih jenis atap yang sesuai, sehingga tidak mengakibatkan gaya inersia yang besar saat terjadi gempa," tuturnya.

Sedangkan untuk rumah tinggal bertingkat yang umumnya lebih mewah, konsep perancangan struktur tahan gempa sudah harus diterapkan, agar tidak terjadi kegagalan.

"Dalam hal ini ada dua faktor utama yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah penerapan konsep struktur tahan gempa secara utuh. Yang kedua adalah pendetailan elemen non-struktur seperti dinding tembok yang tinggi, parapet dari pasangan bata, dan sopi-sopi rumah," tuturnya.

Disini, katanya pengetahuan sang arsitek mengenai gempa harus diperdalam, dan sikap mengutamakan keselamatan nyawa manusia harus menjadi prinsip utama dalam perancangan.(JIBI/k29)

Apps Bisnis.com available on: