Jawa Barat - Bisnis.com
Jum'at, 15 Desember 2017

Ekonomi Singapura Mulai Kena Hajar Krisis Eropa

Yanto Senin, 17/09/2012 11:51 WIB
Ekonomi Singapura Mulai Kena Hajar Krisis Eropa
(reuters)

SINGAPURA -- Ekspor non migas (NODX) Singapura pada Agustus lalu dikabarkan jatuh jauh dibawah perkiraan semula.  Dan ini membangkitkan kekhawatiran bahwa negara kota ini tengah memasuki tahap resesi karena ekspornya ke Uni Eropa anjlok.

Negara kota di Asia Tenggara yang menggantungkan diri pada perdagangan tersebut, Senin ini, menyatakan bahwa  ekspor non migasnya jatuh 10,6% dibandingkan  priode sama tahun lalu.

Kejatuhan ini terutama disebabkan oleh anjloknya penjualan elektronika sampai 10,4% dan terjerembabnya total pengapalan perdagangan ke Uni Eropa yang adalah pasar terbesarnya, sampai 28,7%.

Berdasarkan hitungan bulan ke bulan, total NODX ini merosot 9,1% setelah berkontraksi 3,6% pada Juli lalu.

Ekspor produk elektronik berkontraksi 14,8% pada Agustus ini dari Juli lalu setelah penaksiran musiman, sedangkan penjualan NODX non elektronik merosot 7,1%, demikian kantor perdagangan negeri itu, International Enterprises Singapore, dalam satu email terpisah seperti dikutip Reuters.

"Kendati basis penghitungan kami tidak merujuk kepada kontraksi dari triwulan ke triwulan, perubahannya tidaklah berlangsung tiba-tiba.  Peluang kontraksinya mungkin 40:60," kata kepala riset tresuri Oversea-Chinese Banking Corp, Selena Ling, yang estimasinya mendekati perkiraan 13 ekonom yang disurvei Reuters.

Estimasi tengah dalam jajak pendapat Reuters untuk ekspor non migas negeri ini adalah jatuh 4,0% untuk basis perhitungan year-on-year, dan 1,8% untuk bulan ke bulan.

Berdasarkan data Produk Domestik Bruto (PDB) bulan lalu, kejatuhan ekonomi Singapura ini cukup terantisipasi pada kuartal kedua, berkat melonjaknya produksi produk farmasi Juni lalu.

Pemerintah Singapura telah memperingatkan berlanjutnya ketidakpastian dan sisi buruk risiko serta menyempitnya taksiran pertumbuhan ekonomi 2012 menjadi 1,5 sampai 2,5% dari sebelumnya 1-3%.

Para ekonom memperkirakan bahwa PDB negara kota di Asia Tenggara ini tumbuh 2,4% tahun ini, turun dari taksiran tengah 3,0% pada tiga bulan sebelumnya, demikian perkiraan Survey of Professional Forecasters dari bank sentral Singapura.

Data perdagangan Singapura yang lebih lemah ini mengikuti isyarat melempemnya ekonomi di kawasan di mana sektor jasa Selandia Baru melambat untuk ketiga kalinya pada Agustus guna mencapai rekor terendah dalam dua tahun ini.

Korea Selatan, Senin ini, juga mengumumkan bahwa penjualan ritel mereka jatuh untuk tiba bulan berturut-turut, sampai Agustus lalu.

Para ekonom menaksir bahwa data perdagangan yang melempem selama Agustus itu akan mendorong Otoritas Moneter Singapura (MAS), bank sentral Singapura, untuk mengendurkan kebijakan moneter ketat mereka pada Oktober mendatang dengan melambatkan tingkat apresiasi dolar Singapura.

"Dengan angka-angka seperti ini, momentum pertumbuhan menunjukkan arah yang melambat dan inflasi tak begitu menjadi isu, MAS tampaknya akan menyasar tingkat apresiasi lebih lembut," kata ekonom CIMB, Song Seng Wun.

Singapura menerapkan kebijakan moneter dengan membiarkan dolar Singapura menguat atau melemah terhadap sejumlah mata uang asing.

Ketika merilis pernyataan kebijakan moneter terakhirnya April lalu, MAS mengatakan akan membiarkan naik pelan dan bertahapnya dolar Singapura dengan apresiasi yang lembut.

Selena Ling dari OCBC mengingatkan bahwa MAS --bersama bank-bank sentral kawasan lainnya-- akan berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan yang terburu-buru.  Alasannya risiko apresiasi aset ini terutama didorong oleh langkah terakhir Federal Reserve (bank sentral AS) dalam mengendurkan sistem moneternya (peredaan kuantitatif atau quantitative easing/QE).

"Bank sentral-bank sentral Asia mengkhawatirkan dampak lain QE dan apa yang mungkin bisa dilakukan adalah mengasetkan inflasi," kata Ling seperti dikutip Reuters.(Antara/yri)

Apps Bisnis.com available on: