Jawa Barat - Bisnis.com
Senin, 18 Desember 2017

Ekspor Minyak Iran Anjlok 40% Akibat Embargo UE

Ajijah Selasa, 26/06/2012 14:56 WIB
Ekspor Minyak Iran Anjlok 40% Akibat Embargo UE
(reuters)

(reuters)TEHRAN - Embargo Uni Eropa terhadap minyak mentah Iran yang diperkirakan akan berlaku sepenuhnya Minggu, menyusul sanksi-sanksi AS lebih jauh, sudah sangat dirasakan di sektor perminyakan Republik Islam.

Fasilitas penyimpanan dan tanker-tanker sandar hampir tidak dapat menampung setelah Iran mencoba untuk menghindari pengurangan  produksi ladang-ladang minyaknya, kata para pakar asing di Tehran.

Badan tersebut menambahkan dalam Laporan Pasar Minyak 13 Juni, bahwa ekspor minyak Iran bisa jatuh lebih dalam pada paruh kedua tahun ini. Badan itu mewanti-wanti datanya bersifat pendahuluan, dan tertentang akibat keharusan "rutin" untuk mematikan alat pelacak di tanker-tanker minyak Iran.

Menteri Perminyakan Iran Rostam Qasemi seperti dikutip kantor berita IRNA mengatakan pada 15 Juni: "Ekspor minyak terus berlangsung seperti sedia kala. Sanksi minyak terhadap Iran tidak mempunyai dampak negatif."

Pada Senin, UE menyebutkan "sebuah tinjauan ulang perihal langkah-langkah" mengkonfirmasikan embargo akan diberlakukan mulai Minggu.

Italia, pengimpor minyak mentah Iran terbesar Eropa (180.000 barel per hari), tercecer namun diperkirakan akan mengikuti dalam bulan-bulan ini, segera sesudah Iran mengirimkan minyak untuk perusahaan Italia ENI sebagai pembayaran kembali utang ratusan juta euro.

Embargo UE, diberlakukan untuk menekan Iran agar mengurungkan program nuklir kontroversialnya, dibarengi dengan sanksi AS terhadap sektor keuangan Iran.

Turki, tetangga Iran di utara dan pelanggan minyak terbesar kelimanya, telah membuat kilang tunggalnya, Trupas, sepakat untuk memangkas pembelian minyak mentah Iran dengan 20% dan sebaliknya mencari sumber ke Libya.

Di Asia, yang menyerap 70% ekspor minyak Iran, situasinya campuran.

Jepang, pelanggan terbesar keempat, memangkas 65% impor minyak Iran pada April sementara menambah pengapalan dari Arab Saudi.

Beijing bersiteguh menolak menyerah pada tekanan AS.

Bahkan ketika Iran masih menjual barang hitamnya, membawa pulang petrodolar yang dihasilkan -- dan jumlahnya hingga US$100 miliar pada 2011 -- semakin bermasalah karena cengkeraman keuangan AS.

Dan untuk memastikan ekspor minyak ke sejumlah tujuan, Iran menawarkan diskon hingga US$20 per barel ke negara-negara seperti Pakistan, kata eksekutif minyak Eropa.

Pukulan lain terhadap pendapatan ekspor minyak vital Iran muncul dari harga minyak sendiri.

Hal itu jauh dari prediksi Iran bahwa dunia tidak akan bisa menahan pengurangan ekspor minyak Iran, dan bahwa harga minyak akan melonjak hingga US$150 per barel.

"Di antara pengurangan ekspor, diskon, pembayaran dalam mata uang lokal, dan kesulitan merepatriasi uang tunai, sanksi-sanksi itu mulai membuat Iran membayar mahal," katanya. (ant/ajz)

Apps Bisnis.com available on: